Efek Kemarau Panjang, Ratusan Hektare Sawah di Desa Barumbung Polman Gagal Panen

Avatar photo
Kamaruddin Kay
24 Sep 2026 20:39
2 menit membaca

POLMAN, akarnews.id — Ratusan hektar tanaman padi milik warga di Desa Barumbung, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, dipastikan gagal panen.

Krisis air akibat kemarau panjang yang melanda wilayah ini selama beberapa bulan terakhir membuat tanaman padi mengering dan mati di atas tanah yang retak-retak.

​Kondisi tersebut menjadi pukulan telak bagi warga setempat. Padahal, lahan pertanian yang digantungkan hidupnya oleh para petani dijadwalkan memasuki masa panen pada bulan ini. Namun, sebelum sempat mengeluarkan bulir, tanaman justru layu dan tak bisa diselamatkan.

​”Kami tidak bisa berbuat banyak. Padi yang harusnya dipanen bulan ini malah kering duluan sebelum berbuah,” ujar Aling, salah seorang petani setempat, Kamis (24/9/2026).

​Akar Masalah: Ketergantungan pada Sawah Tadah Hujan

​Dampak langsung dari bencana musiman ini dirasakan telak pada sektor ekonomi warga. Seluruh modal yang telah dikucurkan petani sejak awal mulai dari pembibitan, pembelian pupuk, hingga biaya perawatan lahan menguap begitu saja tanpa menghasilkan pendapatan sedikit pun.

​Meski ada sebagian kecil petani yang masih sempat memetik sisa lahan yang bertahan, jumlah gabah yang dihasilkan jauh dari kata cukup untuk menutupi biaya operasional, sehingga mereka tetap mengalami kerugian.

​Buruknya jaringan irigasi di wilayah tersebut memperparah situasi yang ada. Selama ini, para petani di Desa Barumbung murni mengandalkan air hujan atau mengelola sawah tadah hujan. Begitu kemarau melanda dalam durasi panjang, pasokan air praktis lumpuh total tanpa ada cadangan irigasi teknis.

​Desakan Warga

​Fenomena tahunan yang terus berulang tanpa penanganan optimal ini memicu keprihatinan mendalam di tengah masyarakat.

Warga Desa Barumbung kini menaruh harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dan instansi terkait untuk segera turun tangan menyalurkan bantuan darurat serta solusi jangka panjang.

​Masyarakat mendesak adanya langkah konkret dari pemerintah, seperti pembangunan saluran irigasi teknis, serta pengadaan bantuan sumur bor dan pompa air.

Tanpa adanya intervensi infrastruktur dasar tersebut, warga menilai berbagai slogan tentang kemandirian dan kesejahteraan petani hanya akan menjadi retorika belaka. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x