Mamuju, akarnews.id — Ancam krisis air bersih dan kebakaran lahan akibat cuaca panas ekstrem membayangi warga Sulawesi Barat.
Guna memastikan keselamatan pemukiman serta ketersediaan air bersih warga tetap terjaga, pemerintah daerah menyiagakan tim gabungan penanganan bencana yang tersebar hingga tingkat kabupaten.
Ancaman bencana ini tidak main-main. Hingga Senin (31/8/2026) malam, tercatat 210 titik api sempat terdeteksi di berbagai wilayah Sulbar.
Meski seluruh titik api kini berhasil dipadamkan, potensi kebakaran susulan tetap tinggi karena kondisi rumput dan ilalang yang mengering akibat terik matahari.
Sekretaris Daerah Sulbar, Junda Maulana, mengimbau masyarakat untuk memprioritaskan keselamatan lingkungan dan tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar.
Cuaca ekstrem membuat percikan api sekecil apa pun berpotensi membesar, merembet ke kebun tetangga, hingga melalap kawasan pemukiman warga.
”Masyarakat silakan membuka lahan untuk kebutuhan hidup, tapi jangan dengan cara membakar. Kalau berakibat luas, ada sanksi hukum yang mengintai pelaku pembakaran,” tegas Junda saat memimpin apel kesiapsiagaan di Mamuju, Selasa (1/9/2026).
Untuk mempercepat respons saat terjadi bahaya di tengah warga, tim gabungan yang terdiri dari tentara, polisi, tim SAR, petugas pemadam kebakaran, hingga relawan bencana ditagihkan untuk selalu bersiap.
Koordinasi ditata ringkas agar bantuan air bersih maupun armada pemadam bisa langsung terjun ke lapangan begitu warga melapor.
Meski petugas gabungan disiagakan penuh, keselamatan lingkungan pada akhirnya bergantung pada kesadaran bersama.
Warga diharapkan saling menjaga dan segera melaporkan potensi titik api di lingkungannya sebelum meluas dan merugikan permukiman sekitar.
Tidak ada komentar