Catatan Singkat Soal Kelangkaan BBM di Polewali Mandar dan Upaya Solusinya

Avatar photo
Kamaruddin Kay
2 Apr 2026 18:09
2 menit membaca

OPINI – Fenomena antrean panjang di SPBU dan keberadaan pelansir/ pengecer merupakan dua sisi dari persoalan distribusi BBM yang belum sepenuhnya seimbang.

Di satu sisi, ketika masyarakat memilih untuk ikut mengantri langsung di SPBU, maka yang terjadi adalah penumpukan kendaraan dalam waktu yang bersamaan.

Hal ini biasanya dipicu oleh munculnya kekhawatiran akan kelangkaan BBM, akibatnya banyak orang datang lebih awal atau membeli dalam jumlah lebih banyak dari yang semestinya dan tidak sesuai dengan kebutuhan hariannya.

Dampaknya, antrian menjadi lebih panjang dari biasanya, waktu antrian juga semakin lama dan potensi konflik di lapangan pun menjadi lebih terbuka.

Di sisi lain, pelansir atau pengecer muncul sebagai bagian dari mekanisme pasar informal. Mereka ini membeli BBM dari SPBU lalu menjual kembali ke masyarakat yang tidak punya waktu atau tidak ingin mengantri.

Secara fungsi, sesungguhnya mereka ini membantu distribusi hingga ke titik yang sulit dijangkau. Namun, jika hal ini tdk disertai dengan pengaturan yang jelas , praktik ini juga berisiko menimbulkan penimbunan atau pembelian berulang dalam jumlah besar serta mempercepat habisnya stok BBM di SPBU.

Kondisi yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa persoalan utamanya bukan semata pada pilihan masyarakat , tetapi pada belum optimalnya sistem distribusi dan pengawasan.

Antrian panjang mencerminkan tingginya permintaan dalam waktu bersamaan, sementara keberadaan pelansir menunjukkan adanya celah distribusi yang belum terlayani secara formal.

Solusi yang dapat dilakukan

Pertama, pengaturan pembelian BBM di SPBU perlu diperketat misalnya dengan pembatasan volume per kendaraan per hari.

Hal ini bertujuan mencegah pembelian berlebihan dan memastikan distribusi lebih merata.

Kedua, pelansir atau pengecer tidak harus sepenuhnya dilarang , tetapi perlu diatur secara resmi. Mereka bisa diberi batasan kuota harian dan mekanisme pencatatan, sehingga tetap membantu distribusi tanpa mengganggu pasokan utama.

Ketiga, penambahan pasokan dan distribusi harus disesuaikan dengan kondisi lapangan, terutama di wilayah yang mengalami lonjakan permintaan. Koordinasi antara pihak SPBU, distributor, dan pemerintah daerah menjadi kunci agar suplai tetap stabil.

Keempat, penerapan sistem antrian yang lebih tertib, seperti jalur khusus atau jadwal pengisian berdasarkan jenis kendaraan, dapat mengurangi penumpukan di satu waktu.

Kelima, edukasi kepada masyarakat juga penting agar tidak melakukan panic buying. Kesadaran bahwa BBM akan tetap tersedia jika distribusi berjalan baik dapat membantu menekan lonjakan permintaan mendadak.

Dengan kombinasi pengaturan, pengawasan, dan kesadaran bersama, antrian panjang dapat dikurangi tanpa harus menghilangkan peran distribusi tambahan yang selama ini dijalankan oleh pelansir.

Catatan ini ditulis , biar semua merasa nyaman dan tdk panik. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x