Dorong Kemandirian Benih, Disbuntarnak Polman dan BPSB Sulbar Tinjau Penangkaran Benih Padi di Luyo

Avatar photo
Kamaruddin Kay
7 Jul 2026 14:13
3 menit membaca

POLMAN, AKARNEWS.ID – Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (Disbuntarnak) Kabupaten Polewali Mandar (Polman) bersama Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Sulawesi Barat (Sulbar) melakukan peninjauan langsung ke lokasi penangkaran benih padi di Desa Baru, Kecamatan Luyo, Selasa (7/7/2026).

Langkah ini dilakukan sebagai upaya nyata dalam mendorong kemandirian benih di tingkat daerah.

​Penangkaran benih padi seluas 2 hektare tersebut menggunakan varietas Inpari 42 dan dikelola secara produktif oleh Kelompok Tani Siarendengan.

​Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Disbuntarnak Polman, Muhammad Yunus, menyampaikan bahwa program penangkaran ini sangat krusial agar para petani lokal tidak lagi memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan benih dari luar daerah.

​”Hari ini kami melakukan monitoring di penangkaran yang dibina oleh Dinas Pertanian, khususnya di bawah naungan Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura. Di lokasi Desa Baru ini, kita tangkarkan varietas Inpari 42 seluas 2 hektare,” ujar Muhammad Yunus di lokasi peninjauan.

​Dalam peninjauan tersebut, tim serta para penyuluh lapangan juga telah melakukan pengambilan ubinan (sampling) untuk memprediksi jumlah produktivitas panen. Berdasarkan hasil timbangan sementara, hasil ubinan mencapai 6 kilogram, yang mengindikasikan potensi produktivitas yang cukup tinggi.

​”Bayangan kami ini bisa mencapai hampir 9 ton lebih, bahkan bisa ditargetkan hingga 10 ton per hektare. Tadi sudah ambil ubinan setelah ditimbang hasilnya 6,5 kilogram jadi perkiraan 10 ton per hektare,” tambah Yunus optimis.

​Lebih lanjut, Yunus menjelaskan bahwa esensi dari program ini bukan hanya sekadar mandiri secara kuantitas, melainkan juga menjaga kualitas benih yang dihasilkan. Mengingat luas lahan pertanian di Kabupaten Polman tahun 2025 mencapai lebih dari 16.954,3 hektare, jaminan ketersediaan benih berkualitas untuk musim tanam berikutnya akan sangat mendongkrak hasil produksi padi daerah.

​Saat ini, Kelompok Tani Siarendengan telah memiliki kualifikasi yang kuat dengan memegang dua sertifikat sekaligus, yakni sebagai penangkar dan sebagai penyalur resmi. Sesuai arahan BPSB, minimal 1 ton dari hasil panen ini akan dialokasikan untuk diproses menjadi calon benih yang bersertifikat dan memiliki label resmi.

​Kendati demikian, pihak dinas tidak menampik adanya tantangan di lapangan. Selain tantangan dalam meyakinkan masyarakat yang masih fanatik terhadap varietas tertentu, kendala utama yang dihadapi kelompok tani saat ini adalah minimnya sarana dan prasarana penunjang pascapanen.

​”Kendalanya sekarang adalah sarana dan prasarana seperti gudang penyimpanan dan fasilitas penjemuran untuk proses calon benih bersertifikat itu belum ada. Selain itu, dari 1 ton calon benih yang kita ambil, kemungkinan akan ada penyusutan selama proses berjalan,” ungkap Yunus.

​Di tempat yang sama, Pengawas Benih Tanaman BPSB Provinsi Sulbar, Musmuliadi, menjelaskan alur sertifikasi yang harus dilalui oleh kelompok tani agar benih mereka resmi berlabel. Pihaknya akan mengawal ketat proses pengolahan hasil panen dari para petani.

​”Sekitar 500 kilogram sampai 1 ton hasil panen dari penangkaran benih ini akan diproses terlebih dahulu oleh petani. Setelah itu, sebagian sampelnya akan dikirim ke BPSB untuk dilakukan uji laboratorium,” jelas Musmuliadi.

Jika hasil pengujian laboratorium menyatakan komoditas tersebut layak dan memenuhi standar, BPSB akan segera mengeluarkan sertifikat resmi dan label atas nama kelompok tani tersebut.

​Merespons program ini, Ketua Kelompok Tani Siarendengan, Basri, menyatakan kepuasannya terhadap performa varietas Inpari 42 yang memiliki masa tanam selama 90 hari ini. Ia berharap program serupa dapat terus berlanjut guna meningkatkan kesejahteraan petani di Kecamatan Luyo.

​”Kalau saya lihat hasil perkembangannya ini sangat bagus, bisa dikatakan 99 persen sukses. Kami dari kelompok tani selalu terbuka dan siap apabila ada lagi program kemandirian benih seperti penangkaran ini ke depan,” pungkas Basri.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x