Aksi Kolaboratif Peringati Hari Lingkungan Hidup di Mampie, Lepas Tukik dan Tanam Mangrove Dukung Net Sink 2030

Avatar photo
Kamaruddin Kay
5 Jun 2025 16:32
3 menit membaca

AKARNEWS.ID, POLMAN — Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, masyarakat pesisir Mampie bersama pelajar dan Pemerintah Desa melaksanakan aksi kolaborasi dengan cara pelepasan tukik (bayi penyu) dan penanaman mangrove di Pantai Mampie, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polewali Mandar, (Polman), Kamis, (5/6/2025).

Kegiatan yang diinisiasi oleh Muh. Yusri Peraih Kalpataru sekaligus founder Sahabat Penyu ini diikuti oleh warga setempat, siswa dari SMA Negeri 1 Polewali, SDN 060 Mampie, serta sejumlah aparat desa dan perwakilan dari pemerintah daerah.

Sebanyak 500 ekor tukik dilepas liarkan ke laut, diiringi antusiasme dan harapan untuk menjaga keberlangsungan satwa laut yang dilindungi.

Selain pelepasan tukik, peserta juga melakukan penanaman ratusan bibit mangrove di area pesisir yang rawan abrasi.

Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian ekosistem pantai sekaligus mendukung penyerapan emisi karbon secara alami.

Muh. Yusri yang juga pegiat konservasi, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya bersifat seremonial.

“Ini bagian dari edukasi lingkungan dan kontribusi nyata menuju pencapaian target Net Sink 2030, di mana Indonesia menargetkan sektor kehutanan dan penggunaan lahan menjadi penyerap emisi bersih,” jelasnya.

Keterlibatan lintas kelompok dari pelajar, masyarakat, hingga pemerintah menunjukkan semangat kolaborasi dalam menjaga lingkungan dan meningkatkan kesadaran ekologis sejak usia dini.

Pemerintah daerah pun menyampaikan apresiasi atas inisiatif masyarakat dalam menjaga kawasan pesisir secara berkelanjutan.

Dengan semangat Hari Lingkungan Hidup dan tujuan besar menuju Net Sink 2030, Pantai Mampie menjadi contoh nyata bagaimana komunitas lokal dapat berperan aktif dalam menjaga bumi demi generasi masa depan.

Pelepasan tukik dalam peringatan hari Lingkungan Hidup Sedunia di Mampie.

Untuk diketahui, FOLU Net Sink 2030 adalah sebuah kondisi yang ingin dicapai melalui aksi mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor kehutanan dan lahan dengan kondisi dimana tingkat serapan sudah lebih tinggi dari tingkat emisi pada tahun 2030.

Dikutip dari website Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), kebijakan ini lahir sebagai bentuk keseriusan Indonesia dalam rangka mengurangi emisi GRK serta mengendalikan perubahan iklim yang terjadi beserta dampaknya.

Diproyeksikan sektor FOLU akan berkontribusi hampir 60% dari total target penurunan emisi gas rumah kaca yang ingin diraih oleh Indonesia melalui upaya sendiri (skenario CM1).

Untuk mengimplementasikan skenario dimaksud, terutama menuju net sink di tahun 2030, diperlukan sumber daya yang sangat besar, yang hampir dipastikan pemerintah memerlukan dukungan dan kerjasama dari para pihak, baik lintas Kementerian/Lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, masyarakat, dan lainnya.

Rencana operasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 merupakan sebuah dokumen perencanaan yang menjabarkan target dan kebijakan serta langkah kerja untuk penurunan emisi Gas Rumah Kaca sampai dengan tahun 2030 sebagaimana dinyatakan dalam LTS-LCCR 2050 dan NDC 2030. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x