

POLMAN, AKARNEWS.ID – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) menuai sorotan tajam. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Ugi Baru di Kecamatan Mapilli terpaksa menghentikan operasionalnya setelah ditemukan ulat dalam menu makanan yang dibagikan kepada siswa di SDN 003 Lampa.
Temuan tersebut pertama kali dilaporkan saat siswa hendak menyantap jatah makan siang mereka. Seekor ulat ditemukan berada di atas potongan daging ayam dalam kotak makanan (ompreng), yang seketika memicu kekhawatiran orang tua siswa terkait standar kebersihan dan keamanan pangan program tersebut.
Kepala SPPG Ugi Baru, Arif Sabambang, membenarkan kejadian itu. Berdasarkan investigasi awal, ia menduga ulat tersebut bukan berasal dari proses pemasakan daging, melainkan dari bahan pelengkap yang disajikan mentah.
”Semua menu hari itu sudah melalui proses pengolahan sesuai prosedur. Kami melakukan Quality Control pada bahan sebanyak 5 kali dimulai dari penyiapan bahan hingga pemorsian. Dugaan sementara, ulat berasal dari tomat karena itu satu-satunya bahan yang tidak dimasak,” ujar Arif saat dikonfirmasi, Kamis, (16/4/2026).
Merespons insiden ini, Koordinator Regional SPPG Provinsi mengambil langkah tegas dengan membekukan sementara aktivitas dapur SPPG tersebut.
”Untuk sementara disuspend. Hari ini terakhir penyaluran,” tegas Arif.
Senada dengan hal tersebut, Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG Polman, Firman Jaelani, menyatakan telah memberikan sanksi administratif berupa Surat Peringatan Pertama (SP1) kepada pengelola. Meski laporan menyebut hanya satu porsi yang terdampak, langkah preventif tetap diambil demi keselamatan siswa.
”Kami beri peringatan teguran SP1 agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Indikasinya memang dari buah tomat, bukan di daging ayamnya,” jelas Firman kepada awak media.
Saat ini, pihak SPPG Ugi Baru diminta memenuhi sejumlah persyaratan administratif dan teknis agar diizinkan kembali beroperasi.
Serangkaian standar kelayakan kini sedang ditinjau ulang, meliputi Pemenuhan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Sertifikat Halal dan Sertifikat Kelayakan Air. Rekomendasi dari Dinas Kesehatan. Penyediaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Uji sampel makanan di laboratorium dan Sertifikasi penjamah makanan bagi para relawan.
”Semua syarat itu sudah kami penuhi, sekarang tinggal menunggu hasil uji sampel makanan keluar,” pungkas Arif Sabambang.
Kejadian ini menjadi evaluasi besar bagi penyelenggara program Makan Bergizi Gratis di Sulawesi Barat untuk memperketat pengawasan rantai pasok bahan makanan, terutama bahan sayuran yang disajikan tanpa proses pemanasan. (*)


Tidak ada komentar