

Oleh: Zulkarnain Hasanuddin, S.E.,M.M (Dosen STIE Yapman Majene )
OPINI – Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan indikator makroekonomi yang tidak hanya merepresentasikan agregasi nilai tambah barang dan jasa, tetapi juga mencerminkan struktur ekonomi dan tingkat transformasi suatu wilayah.
Dalam konteks Kabupaten Majene, komposisi PDRB tahun 2024-2025 memperlihatkan dominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 35,67 persen ( Sumber : BPS Majene 2024-2.025 ), diikuti oleh sektor perdagangan serta administrasi pemerintahan.
Struktur ini menegaskan bahwa ekonomi Majene masih berada dalam fase resource-based economy dengan ketergantungan yang cukup tinggi pada sektor primer.
Dalam perspektif teori transformasi struktural (Ekonomi Pembangunan), sebagaimana dikemukakan oleh W. Arthur Lewis, pembangunan ekonomi idealnya ditandai oleh pergeseran tenaga kerja dan kontribusi output dari sektor tradisional (pertanian) menuju sektor modern (industri dan jasa).
Fakta empiris di Majene menunjukkan bahwa proses transformasi tersebut berjalan relatif lambat, ditandai dengan masih dominannya sektor primer dalam pembentukan PDRB. Kondisi ini mengindikasikan adanya keterbatasan dalam diversifikasi ekonomi dan rendahnya tingkat industrialisasi daerah.
Dominasi sektor pertanian dalam struktur PDRB seringkali berkorelasi dengan rendahnya nilai tambah (value added) yang dihasilkan. Hal ini disebabkan oleh karakteristik sektor primer yang cenderung bergantung pada faktor alam, memiliki elastisitas harga yang tinggi, serta minimnya proses hilirisasi.
Dalam kerangka Transformasi Struktural, stagnasi pada sektor primer berpotensi menciptakan jebakan ekonomi berpendapatan menengah ke bawah (low income trap), terutama jika tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas dan inovasi teknologi.
Sektor perdagangan yang menempati posisi berikutnya dalam struktur PDRB Majene menunjukkan adanya aktivitas distribusi dan konsumsi yang cukup dinamis.
Namun demikian, tanpa basis produksi lokal yang kuat, sektor ini berisiko menjadi sekadar intermediary sector yang tidak secara signifikan meningkatkan kapasitas produksi daerah. Di sisi lain, kontribusi sektor administrasi pemerintahan mencerminkan peran belanja publik dalam menggerakkan ekonomi lokal.
Ketergantungan ini, dalam perspektif ekonomi regional, sering dikaitkan dengan fenomena government-driven economy, di mana pertumbuhan ekonomi sangat sensitif terhadap dinamika fiskal daerah.
Sehingga, tantangan utama pembangunan ekonomi Majene terletak pada upaya mendorong transformasi struktural yang lebih progresif. Strategi pembangunan tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan (growth-oriented), tetapi harus diarahkan pada perubahan struktur ekonomi (structural change-oriented).
Hal ini dapat dilakukan melalui penguatan sektor unggulan berbasis potensi lokal dengan pendekatan hilirisasi, pengembangan agroindustri, serta integrasi rantai nilai (value chain integration).
Selain itu, intervensi kebijakan perlu difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan infrastruktur ekonomi, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif. Dalam kerangka kebijakan publik, peran pemerintah daerah menjadi krusial sebagai enabler sekaligus catalyst dalam mendorong diversifikasi ekonomi.
Sebagai penutup, membaca PDRB Majene tidak cukup berhenti pada analisis kontribusi sektoral, tetapi harus dilanjutkan pada pemahaman terhadap arah transformasi ekonomi daerah.
Tanpa adanya akselerasi transformasi struktural, maka pertumbuhan ekonomi yang terjadi berpotensi bersifat semu—tumbuh secara agregat, namun tidak mampu meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (*)


Tidak ada komentar