

Penulis : Dr. H. Farid Wajdi. M.P,d (Staf Ahli Gubernur Sulbar Bidang Ekbang)
OPINI – Todilaling Raja pertama Balanipa menetapkan dua syarat pokok yang harus dipenuhi oleh pemimpin ( Leader) yang pertama memilki keagungan (manawang) pulu puluna, yakni kompetensi dan kemampuan berpikir serta keberanian bernyali besar , yang kedua adalah Malumu Kedzona beradab dan rendah hati. Singkatnya Seseorang yang fit and proper menjadi pemimpin (Maraqdia) adalah orang yang berakal sehat dan beradab luhur.
Tidak jauh waktu berselang penerus Todilaling yakni Daetta Tommuane (kanna I Pattang) Raja Balanipa yang keempat, Ia adalah anak dari Maraqdia Balanipa ketiga Todijallo sekaligus cucu langsung dari Imanyambungi, juga berhasil merumuskan tugas utama yang dilakukan oleh pemimpin dalam menjalankan pemerintahannya, yaitu focus dalam peningkatan perikehidupan masyarakatnya. (atuo Tuoanna paqbanua), artinya pemerintah selalu hadir dalam setiap persoalan yang menyangkut hajat hidup orang banyak, mengurangi waktu tidurnya , memperpendek istirahatnya , agar waktunya lebih lama terfokus ada rakyat ( Tarrare di alloq ,Tammatindo dibongi )
Kemampuan Raja keempat Balanipa ini dalam mendrive arah dan gerak pemerintahannya menjadi pelajaran tersendiri bagi kepemimpinan, jejaknya bukan hanya dilihat hanya sebagai kearifan masa lalu namun sekaligus dapat menginspirasi bagi generasi saat ini, dalam menteknorasi issu-issu pembangunan yang relevan dalam perspektif perencanaan masa kini.
Ditengah keterbatasan (scarcity) sumber daya saat itu, Daetta melakukan langkah proaktif mengidentifikasi dan memetakan persoalan utama dan berdampak, serta mendahulukannya (put first thing first) in line dengan tujuan akhir (begin with the end in mind). pilihan pada issu utama melahirkan keputusan strategic. hasilnya focus pada Lima pilar utama yaitu,
pertama : Dimamatanna daung ayu (ketahanan dan produktivitas pertanian), kedua: Malimbonna rura’ (kelimpahan perikanan), ketiga Maringinna litaq (stabilitas sosial-politik). Keempat : Ayarianna banne tau ( kualitas sumber daya manusia ), dan kelima : Atepuanna agama (dijalankannya syariat agama).
Kelima perioritas pembangunan yang digagas oleh Daetta ini mencerminkan adanya upaya integrasi antara dimensi material dan dimensi immaterial dalam kepemimpinan. Sebuah visi yang tidak hanya berorientasi pada kesejahteraan duniawi, tetapi juga keselamatan ukhrawi.
Dalam narasi lokal disebutkan bahwa dedikasi seorang pemimpin (mara’dia) ditunjukan dengan mengorbankan waktu istirahatnya mengurangi tidur di malam hari untuk memikirkan beban rakyat, dan pada siang harinya tetap bekerja keras menembus batas waktu untuk memastikan kebijakannya berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Ia menukar waktu istirahatnya dan bekerja keras untuk mencapai hasil yang baik , untuk mendapatkan sesuatu rela berkorban “Law of Equivalent Exchange” sebab sumber daya terbatas.
Ini bukan saja sebagai etika kerja ( code of conduct), melainkan bentuk awal dari apa yang dalam teori modern disebut sebagai transformasi leadership, di mana pemimpin tidak hanya mengelola, tetapi juga menginspirasi dan menggerakkan perubahan focus ke solusi. yang kedua selalu belajar untuk menghasilkan output yang lebih baik (sharpen the saw) merawat dirinya agar tetap tajam dan efektip. ( Stpehen R Covey the 7 Habits of Highly Effective People)
Jika ditarik ke dalam perspektif kesejahteraan, gagasan Daetta memiliki resonansi kuat. Amartya Sen dalam bukunya Development as Freedom menegaskan bahwa pembangunan sejati adalah perluasan kebebasan substantif manusia, termasuk bebas dari kelaparan dan ketakutan.
Dalam konteks ini, penekanan Daengta pada produktivitas pertanian dan perikanan sejatinya adalah upaya menjamin freedom from want. Negara (atau kerajaan) hadir untuk memastikan rakyat tidak lapar, sebuah prinsip yang sangat fundamental dalam ekonomi kesejahteraan.
Daetta menggambarkan stabilitas sosial dalam konsep dimaringinna litaq sejalan dengan pandangan John Maynard Keynes dalam The General Theory of Employment, Interest and Money, bahwa peran negara sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan menghindari gejolak yang dapat mengganggu kesejahteraan masyarakat. Keamanan sosial dan kepastian ekonomi adalah prasyarat bagi pertumbuhan.
Konsep diayarianna banneq tau, titik fokusnya pada, penyiapan generasi Tangguh dan kuat atau kata lain penyiapan sumber daya manusia yang lebih baik, tidak salah urus pada pola tumbuh anak, pengasuhan, Pendidikan serta pengembangan bakat dan minatnya, sebab kelalaian mengurus generasi akan meninggalkan generasi yang lemah, akibat lemahnya generasi maka negara akan turut lemah, karena lemahnya negara maka akan mudah terkalahkan seperti yang digambarkan dalam (QS. Surah Annisa ayat 9) larangan untuk meninggalkan generasi yang lemah.
Di sisi lain, dimensi spiritual dalam diatepuanna agama menunjukkan bahwa kesejahteraan tidak berhenti pada indikator material seperti terbaca pada PDRB. Ini mengingatkan pada kritik Joseph Stiglitz dalam The Price of Inequality, yang menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi tanpa keadilan sosial dan nilai-nilai moral hanya akan menghasilkan ketimpangan.
Daetta jauh sebelum diskursus ini berkembang, telah menempatkan agama sebagai fondasi etika publik, membangun masyarakat yang tidak hanya makmur, tetapi juga bermoral.
Bahkan, jika dikaitkan dengan konsep pembangunan berkelanjutan modern, pendekatan Daetta dapat dibaca sebagai sintesis awal antara green economy dan blue economy. Penguatan sektor pertanian dan perikanan yang menjadi tulang punggung ekonomi, sebagaimana tercermin dalam kontribusi besar terhadap PDRB Sulawesi Barat tahun 2026, (46%) berasal dari sector pertanian, perkebunan dan perikanan kelautan , dari data sektor ini menunjukkan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, seperti yang dipetakan oleh Daetta abad 15 lalu.
Dalam Perspektif Islam, fondasi kepemimpinan legitimasi normatifnya terdapat pada Surah Al-Baqarah Ayat 155, yang mengingatkan bahwa ujian kehidupan, termasuk kelaparan dan ketakutan, adalah keniscayaan. Maka tugas pemimpin adalah meminimalkan dampak ujian tersebut melalui kebijakan yang berpihak pada rakyat. Negara hadir bukan hanya sebagai regulator, tetapi sebagai pelindung kesejahteraan (protector of welfare).
Jika kelima hal ini dikerjakan dengan baik konsisten dan sinergi dengan yang seluruh pemangku kepentingan lalu dikomunikasikan secara baik , rasional atas dasar saling menghargai maka akan menghasilkan perubahan kehidupan yang lebih baik keseimbanagan hidup antara dunia dan akhirat , sebuah negeri yang terhormat, sejahtera, dan bermartabat, menjadi tujuan akhir dari seluruh bangunan kepemimpinan ini.
Dalam bahasa modern, ini adalah bentuk inclusive prosperity: kesejahteraan yang memakmurkan, dan berkelanjutan. Apa yang dirumuskan oleh Daetta bukan romantisme masa lalu saja, tapi sebuah model kepemimpinan holistik yang relevan untuk menjawab tantangan hari ini.
Di tengah krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan modern, mungkin sudah saatnya kita kembali membaca kearifan lokal, karena bisa jadi, di sanalah tersimpan cetak biru ( blue print ) kesejahteraan yang selama ini kita cari.


Tidak ada komentar