Petani Bawang Merah Polman Terancam Gagal Panen, Tim Gabungan Turun Tangan Basmi Hama Spodoptera

Avatar photo
Kamaruddin Kay
13 Apr 2026 20:08
2 menit membaca

POLMAN, AKARNEWS.ID — Puluhan hektare tanaman bawang merah di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, dilaporkan terserang hama ulat jenis Spodoptera.

Serangan yang meluas ini memicu kekhawatiran gagal panen di kalangan petani, sehingga mendorong Dinas Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (Disbuntarnak) Kabupaten Polman segera melakukan langkah darurat di lapangan.

​Disbuntarnak Polman bersama tim teknis dari UPTD Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Sulawesi Barat serta Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) melaksanakan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).

​“Kami bersama tim gabungan turun langsung melakukan pengendalian untuk memastikan dampak serangan ini bisa ditekan semaksimal mungkin,” ujar Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Disbuntarnak Polman, Muhammad Yunus, Senin (13/4/2026).

Serangan hama ulat ini terkonsentrasi di dua kecamatan, yakni Desa Bala dan Lambanan Kecamatan Balanipa dan Desa Suruang Kecamatan Campalagian.

Rata-rata tanaman yang terdampak berada pada usia produktif, yakni 30 hingga 65 hari setelah tanam (HST). ​Secara akumulatif, total luas lahan yang terserang mencapai 43 hektare.

Dari jumlah tersebut, tim teknis telah berhasil melakukan pengendalian seluas 21 hektare menggunakan insektisida guna menekan lonjakan populasi hama yang meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir.

​Berikut adalah rincian wilayah terdampak:

​Desa Bala: Dari 60 hektare lahan, 30 hektare terdampak, dan 15 hektare telah ditangani.

​Desa Lambanan: Dari 30 hektare lahan, 10 hektare terdampak, dan 6 hektare telah ditangani.

​Desa Suruang: Dari 5 hektare lahan, sekitar 3 hektare terdampak serangan.

​Kepala LPHP Rea Timur Polman, Yonatan Tunggaldinata, menekankan bahwa penggunaan bahan kimia hanyalah solusi jangka pendek. Ia mendorong petani untuk menerapkan pengendalian terpadu demi memutus siklus hidup hama secara permanen.

​“Petani diberikan edukasi mengenai seed treatment (perlakuan benih) sebelum tanam dan pentingnya rotasi atau pergiliran tanaman dengan komoditas legum atau kacang-kacangan,” jelas Yonatan.

​Sebagai langkah lanjut, kelompok tani di wilayah terdampak telah mengajukan bantuan benih kacang hijau kepada pemerintah kabupaten dan provinsi sebagai komoditas rotasi.

Selain itu, petani juga berharap adanya bantuan infrastruktur permanen untuk mendukung produktivitas.

​Subaer, salah seorang petani setempat, mengapresiasi respons cepat pemerintah, namun ia menitipkan harapan besar terkait fasilitas pengairan lantaran puluhan hektare lahan tersebut masih bergantung pada air hujan.

​”Kami sangat berterima kasih atas bantuan pengendalian ini. Namun, kendala utama kami adalah air. Selama ini kami hanya mengandalkan hujan. Kami sangat berharap pemerintah bisa membantu instalasi pengairan agar saat kemarau kami tidak kesulitan,” pungkas Subaer.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x