Tolak Tambang Logam Tanah Jarang di Mamuju, KOPRI PMII Sulbar: Ancaman Ruang Hidup Warga Botteng

Avatar photo
Kamaruddin Kay
16 Mei 2026 20:26
NEWS 0
2 menit membaca

MAMUJU, AKARNEWS.ID – Rencana pemerintah pusat melalui PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) untuk menggarap proyek tambang dan hilirisasi Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Element (REE) di Desa Botteng, Kabupaten Mamuju, mendapat penolakan keras.

Penolakan ini disuarakan oleh Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (KOPRI) Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Sulawesi Barat yang menilai proyek tersebut akan merampas ruang hidup masyarakat.

​Pengurus KOPRI PKC PMII Sulbar sekaligus putri asli Desa Botteng, Radhiah Dea, menegaskan bahwa wilayahnya bukanlah tanah kosong yang bisa dipetakan dan dijadikan ladang eksploitasi begitu saja.

​”Saya berbicara sebagai putri asli Botteng, tanah yang membesarkan saya, tanah yang menyimpan jejak leluhur, yang hari ini sedang terancam dihancurkan atas nama tambang. Kami menolak. Dengan tegas, sadar, dan dengan seluruh keberanian yang kami punya,” ujar Radhiah, dalam keterangannya, Sabtu, (16/5/2026).

​Radhiah mengingatkan bahwa ada kehidupan nyata di Desa Botteng yang dipertaruhkan. Mulai dari ibu-ibu yang menggantungkan hidup pada alam, anak-anak dengan harapan masa depan, hingga masyarakat yang telah puluhan tahun menjaga kelestarian hutan, sungai, dan tanah mereka.

​Ia mengaku muak dengan pola pembangunan yang sering kali datang dengan wajah perampasan, di mana hutan ditebang, gunung dilukai, sungai terancam tercemar, dan rakyat hanya diminta diam.

​”Sebagai perempuan Botteng, saya percaya alam bukan warisan yang boleh dijual kepada keserakahan. Alam adalah titipan untuk generasi mendatang. Ketika tanah leluhur mulai diusik, maka perempuan tidak boleh bungkam. Karena menjaga tanah berarti menjaga kehidupan,” tegasnya.

​Diketahui sebelumnya, rencana eksploitasi Logam Tanah Jarang di Mamuju ini telah dibahas dalam rapat bersama antara Badan Industri Mineral (BIM) dan PT Perminas—BUMN baru bentukan Danantara—di Sekretariat BIM, Kantor Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, pada Rabu (14/5/2026).

Rapat tersebut turut dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, didampingi Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulbar, Bujaeramy Hassan.

​Komoditas Logam Tanah Jarang saat ini memang tengah menjadi incaran dunia karena peran vitalnya dalam industri pertahanan, elektronik, hingga sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

​Namun, besarnya potensi ekonomi tersebut dinilai KOPRI Sulbar tidak sebanding dengan potensi kerusakan lingkungan yang akan ditimbulkan. Radhiah memberi peringatan keras bahwa masyarakat tidak akan tinggal diam jika proyek ini tetap dipaksakan berjalan.

​”Jika tambang tetap dipaksakan masuk, jangan pernah berharap masyarakat akan diam. Kami akan terus berdiri bersama rakyat, bersama perempuan-perempuan kampung, bersama suara-suara kecil yang selama ini berusaha dibungkam. Sebab Botteng bukan untuk dihancurkan, Botteng adalah rumah yang akan kami jaga sampai kapan pun,” tutupnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x