

Oleh: Hamzah Durisa (Penggerak Literasi/Masyarakat Lampoko)
OPINI – Polewali Mandar tidak akan lama lagi menapaki pemilihan kepala desa secara serantak. Prosesnya pun tengah dimulai, setidaknya dalam dunia jagat maya. Pemilihan kepala desa (pilkades) sering kali dipahami sebagai ajang kompetisi biasa: siapa yang paling dikenal, siapa yang paling kuat basis dukungannya, atau siapa yang paling banyak jaringan.
Namun, di Desa Lampoko, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, pilkades kali ini seharusnya dibaca lebih dari itu. Ini bukan sekadar pertarungan orang per orang, melainkan pertarungan gagasan tentang masa depan desa.
Pertarungan Gagasan
Dua nama telah muncul dan menjadi bahan pembicaraan sebagai bakal calon: Zulkifli Rasyak dan Muh. Lismi. Keduanya membawa latar belakang yang berbeda, yang justru menjadi kekuatan bagi masyarakat untuk menilai secara jernih. Di satu sisi, ada figur pekerja lapangan yang dekat dengan realitas masyarakat.
Di sisi lain, ada kader intelektual yang menawarkan pendekatan berbasis pemikiran dan perencanaan. Pertemuan dua karakter ini adalah kesempatan langka bagi masyarakat Lampoko untuk memilih bukan hanya siapa, tetapi bagaimana desa ini akan dikelola ke depan.
Selama ini, dalam banyak pilkades, pilihan sering kali terjebak pada basis: keluarga, kedekatan emosional, atau bahkan sekadar ikut-ikutan arus.
Hal ini wajar dalam konteks sosial desa yang masih kental dengan hubungan kekeluargaan. Namun, jika pilihan hanya didasarkan pada hal tersebut, maka yang hilang adalah arah pembangunan yang jelas. Desa bisa berjalan, tetapi tidak selalu bergerak maju.
Karena itu, pilkades di Lampoko perlu dinaikkan derajatnya menjadi ruang pertarungan gagasan. Masyarakat perlu mulai bertanya: apa visi calon terhadap desa?
Bagaimana mereka melihat potensi Lampoko? Apa solusi mereka terhadap masalah yang selama ini dihadapi? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana cara mereka mewujudkan semua itu?
Muh. Lismi, sebagai figur pekerja lapangan, tentu memiliki keunggulan dalam memahami persoalan riil masyarakat. Ia kemungkinan besar terbiasa berinteraksi langsung dengan warga, melihat persoalan sehari-hari, dan merasakan denyut kehidupan desa secara nyata. Keunggulan ini penting, karena pemimpin desa harus tahu apa yang benar-benar dibutuhkan masyarakat, bukan sekadar apa yang terlihat di atas kertas.
Namun, pemahaman lapangan perlu diiringi dengan perencanaan yang matang. Di sinilah peran gagasan menjadi penting. Desa hari ini tidak bisa lagi dikelola dengan cara-cara lama. Dibutuhkan inovasi, kemampuan membaca peluang, dan keberanian untuk membuat terobosan.
Sementara itu, Zulkifli Rasyak sebagai kader intelektual membawa kekuatan pada aspek pemikiran dan perencanaan. Ia mungkin lebih terbiasa dengan konsep, strategi, dan pendekatan sistematis dalam menyelesaikan masalah.
Ini juga menjadi kebutuhan penting, terutama di era sekarang di mana desa dituntut mampu mengelola anggaran, memanfaatkan teknologi, dan membangun jejaring dengan berbagai pihak.
Namun, gagasan yang baik juga harus mampu turun ke lapangan. Pemikiran yang tinggi tidak akan berarti jika tidak bisa diterjemahkan menjadi tindakan nyata yang dirasakan masyarakat. Oleh karena itu, tantangan bagi kader intelektual adalah bagaimana menjembatani ide dengan realitas.
Pilihan yang Ideal
Dari dua karakter ini, sebenarnya masyarakat Lampoko dihadapkan pada pilihan yang ideal. Bukan memilih antara baik dan buruk, tetapi memilih pendekatan mana yang lebih meyakinkan untuk membawa desa ke arah yang lebih baik.
Bahkan, lebih jauh lagi, masyarakat bisa menuntut keduanya untuk tidak hanya menunjukkan kelebihan masing-masing, tetapi juga menjawab kelemahan yang ada.
Pertarungan gagasan bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, bagaimana calon melihat pengelolaan dana desa? Apakah dana tersebut hanya akan digunakan untuk pembangunan fisik, atau juga untuk pemberdayaan masyarakat?
Bagaimana dengan sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung banyak desa di Polewali Mandar? Apakah ada rencana untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian?
Selain itu, isu pemuda juga penting untuk dibahas. Banyak desa menghadapi tantangan bagaimana melibatkan generasi muda agar tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku pembangunan. Calon kepala desa harus punya gagasan jelas tentang ini. Apakah akan ada program pelatihan, pengembangan usaha, atau ruang kreativitas bagi anak muda?
Tidak kalah penting adalah soal pelayanan publik. Kepala desa bukan hanya pemimpin, tetapi juga pelayan masyarakat. Bagaimana calon memastikan pelayanan administrasi berjalan cepat, transparan, dan adil? Bagaimana mereka membangun kepercayaan masyarakat?
Harapan Masyarakat
Dalam konteks Lampoko, yang berada di wilayah Campalagian dengan kekayaan budaya yang kuat, aspek kearifan lokal juga tidak boleh dilupakan.
Gagasan pembangunan harus tetap berpijak pada nilai-nilai lokal. Jangan sampai modernisasi justru menghilangkan identitas desa. Sebaliknya, kearifan lokal harus menjadi kekuatan dalam membangun desa yang berkarakter.
Masyarakat juga perlu aktif dalam proses ini. Jangan hanya menunggu janji dari calon, tetapi berani bertanya dan berdiskusi. Pilkades bukan hanya milik calon, tetapi milik seluruh warga. Semakin aktif masyarakat, semakin berkualitas pula demokrasi yang terbangun.
Media sederhana seperti pertemuan warga, diskusi terbuka, atau bahkan obrolan di rumah-rumah bisa menjadi ruang untuk membahas gagasan. Tidak perlu formal, yang penting substansi. Dari sana, masyarakat bisa menilai siapa yang benar-benar siap memimpin, bukan hanya siap mencalonkan diri.
Pada akhirnya, pilkades adalah tentang masa depan. Siapa pun yang terpilih nanti akan menentukan arah Lampoko beberapa tahun ke depan. Apakah desa ini akan berjalan biasa-biasa saja, atau bergerak maju dengan visi yang jelas, sangat bergantung pada pilihan hari ini.
Zulkifli Rasyak dan Muh. Lismi adalah dua pilihan yang masing-masing memiliki kelebihan. Namun, yang lebih penting dari siapa yang menang adalah bagaimana proses ini berlangsung. Jika pilkades ini mampu menjadi ruang pertarungan gagasan, maka siapa pun yang terpilih akan membawa legitimasi yang kuat, karena dipilih berdasarkan pemikiran, bukan sekadar kedekatan.
Inilah momentum bagi Desa Lampoko untuk menunjukkan bahwa demokrasi desa bisa matang. Bahwa masyarakat tidak hanya memilih, tetapi juga menilai. Tidak hanya mengikuti, tetapi juga memahami. Dengan begitu, pilkades tidak lagi sekadar agenda delapan tahunan, tetapi menjadi titik awal perubahan.
Perubahan yang lahir dari kesadaran bersama bahwa desa akan maju jika dipimpin oleh gagasan yang kuat dan dijalankan dengan komitmen yang nyata. Akhirnya masyarakatlah yang akan menentukan, mau memilih penggerak di lapangan, atau pemikir intelektual.


Tidak ada komentar