Memaknai Simbol Ibadah Haji

Avatar photo
Kamaruddin Kay
9 Jun 2025 16:48
3 menit membaca

Penulis: Prof. Dr. H. A. Marjuni., M. Pd., I

AKARNEWS.ID, OPINI – Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal. Dalam melaksanakan ibadah haji, pertama-tama yang dilakukan adalah memakai pakaian ihram. Ini mengandung arti bahwa pakaian biasa yang selama ini dipakai harus ditanggalkan dan dibuang jauh-jauh.

Mungkin selama ini ada yang memakai pakaian serigala yang melambangkan sifat kebuasan, kekejaman, kekerasan, dan penindasan; pakaian anjing yang melambangkan sifat penipu; pakaian ular yang melambangkan sifat bermuka dua dan berlidah dua, yakni senang berpura-pura; pakaian tikus yang melambangkan sifat kelicikan: pakaian babi yang melambangkan sifat keserakahan dan kerakusan merampas hak-hak orang lain, dan lain-lain.

Semua pakaian jahat seperti ini harus ditanggalkan dan dibuang jauh-jauh, untuk kemudian diganti dengan pakaian ihram, pakaian yang sama berupa dua lembar pakaian yang berwarna putih-putih seperti kain kafan yang membalut tubuh kita ketika meninggal dunia.

Ini semua mengandung arti bahwa mereka yang memakai pakaian ihram ini seharusnya mampu merasakan dan menyadari akan kelemahan dan keterbatasannya serta pertanggungjawaban yang akan dimintai di hadapan Allah yang Maha Kuasa.

Kedua, Ka’bah melambangkan keesaan Allah. Semua orang yang berasal dari berbagai latar belakang bangsa dan negara beribadah menuju pada tempat yang sama dan satu dengan niat yang sama.

Di sisi Ka’bah ada Hijr Ismail. Hijr Ismail, artinya tempat pangkuan Ismail. Di sinilah tempat Ismail dipangku oleh ibunya yang bernama Hajar.

Hajar adalah seorang wanita yang berkulit hitam, miskin, bahkan ia seorang budak. Namun demikian, Hajar seorang budak ini ditempatkan oleh Allah Swt. di tempat yang mulia, yaitu di sisi Ka’bah dan peninggalannya diabadikan oleh Allah.

Ini artinya agar menjadi pelajaran buat kita bahwa Allah Swt memberi kedudukan dan kehormatan untuk seseorang bukan karena keturunan, pangkat, jabatan, kekayaan atau status sosial lainnya, akan tetapi Allah menilai dan mengangkatnya berdasarkan besarnya pengabdian dan kedekatannya kepada Allah Swt, serta usahanya untuk hajar, maksudnya berhijrah dari kejahatan menuju kebaikan, dari ketertinggalan menuju kemajuan.

Ketiga, Thawaf artinya mengelilingi Ka’bah. Ini melambangkan bahwa segala aktivitas dan kegiatan hidup kita harus berpusat kepada Allah dan dalam melaksanakan pekerjaan apa pun bentuknya harus dimulai dengan menyebut dan mengingat Allah.

Berkeliling-keliling Ka’bah melambangkan bahwa pelakunya harus berbaur, lebur, dan larut bersama orang-orang lain serta memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama, yakni tetap dalam lingkungan Allah Swt.

Keempat, Sa’i artinya lari-lari kecil dan bolak balik antara Shafa dan Marwa. Ini mengandung arti bahwa dalam hidup ini kita harus bergerak, aktif berusaha dan kerja keras, tidak boleh pasif dan duduk bermalas-malasan. Shafa artinya bersih dan suci. Dan Marwa artinya puas dan murah hati. Ini mengandung arti bahwa dalam berusaha dan kerja keras harus diawali dengan niat yang bersih dan dengan cara yang bersih juga, sehingga dengan demikian akan tercapai hasil kepuasan diri atas segala pemberian Allah Swt.

Kelima, wukuf di ‘Arafah. ‘Arafa artinya mengenal. Maksudnya, bahwa seluruh jemaah haji yang wukuf di padang ‘Arafah ini diharapkan mampu mengenal siapa dirinya, mengenal dan menyadari dosa-dosanya selama ini, mengenal dan mengetahui bagaimana cara ia akan kembali menuju kepada Allah, mengenal akan akhir perjalanan hidupnya serta pertanggungjawabannya nanti di akhirat kelak.

Dengan memahami makna simbol yang terkandung dalam prosesi kegiatan ibadah haji ini lalu kemudian mampu menerjemahkan ke dalam kehidupan realitas sosial kemanusiaan setelah kembali ke kampung halaman itulah pertanda keberhasilan ibadah haji dan inilah yang sesungguhnya dinamakan haji yang mabrur.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x