Pawai Obor Generasi Lampoko; Ruang Perjumpaan Religiusitas, Tradisonalitas dan Modernitas

Avatar photo
Kamaruddin Kay
17 Feb 2026 10:24
6 menit membaca

Oleh: Hamzah Durisa (Pegiat Literasi/Penggerak GUSDURian)

OPINI – Di zaman ketika notifikasi lebih cepat dari azan, ketika orang lebih khusyuk menatap layar ketimbang langit, warga Lampoko masih punya cara sendiri menyambut Ramadan: pawai obor, atau dalam lidah lokal yang hangat itu, marroma. Di sana, cahaya tidak lahir dari listrik, melainkan dari bambu yang dilubangi, diisi minyak tanah atau solar, ujungnya disumpal sabut, lalu dibakar dengan niat yang barangkali lebih terang dari apinya sendiri. Tanggal 17 Februari senin malam, bertepatan dengan 29 Sya’ban 1947 H, orang-orang berkumpul. Bukan untuk konser, bukan untuk diskon, tapi untuk menyambut bulan suci dengan hati yang—setidaknya diupayakan—bersih. Lalu kemudian menyalakan obor sambil berjalan mengelilingi kampung.

Tradisi Yang Mulai Langka

Lampoko, sebuah wilayah di Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, bukan kota besar yang penuh baliho digital. Ia tidak gemerlap. Tapi justru karena itu, ia menyimpan sesuatu yang mulai langka: kekompakan lintas generasi. Anak-anak, remaja, orang tua, mereka turun ke jalan membawa obor. Bambu-bambu itu dipotong, dirakit, diisi minyak, sabut dipadatkan. Ada yang tangannya belepotan solar, ada yang sibuk memastikan api tidak cepat padam. Di situ kita belajar bahwa tradisi bukan cuma seremoni, melainkan kerja kolektif yang melibatkan tenaga, waktu, dan yang paling penting adalah rasa memiliki.

Obor dalam pawai itu memang sederhana. Ia bukan teknologi mutakhir. Tidak ada fitur fast charging, tidak bisa terkoneksi Wi-Fi, apalagi punya kamera 108 megapiksel. Tapi justru dalam kesederhanaannya itulah ia menantang modernitas. Di tengah dunia yang serba instan, obor mengajarkan proses. Api tidak menyala begitu saja; ia perlu dirawat. Kalau minyak kurang, ia redup. Kalau sabutnya tidak padat, ia cepat habis. Bukankah itu juga metafora hidup beragama? Iman tidak bisa cuma di-update saat Ramadan tiba. Ia perlu “diisi” terus-menerus.

Pawai obor di Lampoko bukan sekadar barisan orang berjalan malam-malam sambil membawa api. Ia adalah simbol penyambutan. Dalam kebudayaan Mandar, menyambut berarti memuliakan. Dan Ramadan bukan tamu biasa. Ia bulan yang diyakini membawa berkah, ampunan, dan peluang memperbaiki diri. Maka penyambutannya pun tidak setengah hati. Ada takbir yang dikumandangkan, ada salawat yang dilantunkan, ada wajah-wajah yang memancarkan harap. Semua berjalan bersama, seolah ingin mengatakan: kami siap memasuki bulan suci ini dengan niat yang lebih baik.

Perjumpaan Religiusitas, Tradisionalitas dan Modernitas 

Di situ ada unsur religius yang kental, tapi tidak kaku. Tidak menggurui. Ia hadir dalam bentuk yang cair: doa-doa yang dilangitkan, harapan yang diam-diam diselipkan di balik langkah kaki. Orang-orang mungkin tidak menyebutnya sebagai “ritual simbolik transisi kalender hijriah”, tapi mereka tahu bahwa 29 Sya’ban adalah ambang. Sebuah pintu. Dan pawai obor adalah cara mereka mengetuk pintu itu dengan sopan.

Namun, seperti semua tradisi, marroma juga berhadapan dengan modernitas. Anak-anak yang membawa obor itu mungkin sebelumnya sibuk bermain gim daring. Remaja yang berjalan sambil bertakbir mungkin sehari-hari aktif di media sosial. Dunia mereka tidak lagi sesederhana bambu dan sabut. Mereka hidup di era algoritma. Tapi justru di situlah menariknya: tradisi tidak harus kalah oleh modernitas. Ia bisa berdampingan. Obor dan smartphone bisa berada dalam satu tangan yang sama—asal yang memegangnya tahu mana yang harus lebih diterangi.

Ada kekompakan yang terasa begitu nyata dalam pawai itu. Tidak ada yang dibayar untuk berjalan. Tidak ada sponsor besar yang memasang spanduk raksasa. Semua bergerak karena kesadaran kolektif. Di tengah masyarakat yang sering dipecah oleh perbedaan pilihan politik atau urusan receh lainnya, pawai obor menjadi ruang temu. Orang-orang yang mungkin jarang saling sapa, malam itu berjalan berdampingan. Api yang mereka bawa seolah melebur sekat-sekat kecil yang selama ini tak kasatmata.

Kebudayaan, dalam banyak teori, sering dibahas dengan istilah-istilah yang rumit. Ada yang menyebutnya sebagai sistem simbol, ada yang menyebutnya sebagai pola makna yang diwariskan. Tapi di Lampoko, kebudayaan itu sederhana: ia hidup. Ia berjalan. Ia menyala di ujung bambu. Ia tidak dibukukan dalam jurnal, tapi diwariskan dari tangan ke tangan. Dari generasi yang dulu membawa obor dengan kaki telanjang, ke generasi kini yang mungkin memakai sepatu bermerek, tapi tetap menggenggam api yang sama.

Tentu saja, ada tantangan. Soal keamanan, misalnya. Api tetaplah api. Ia bisa menjadi cahaya, tapi juga bisa menjadi bahaya jika tak dijaga. Di sinilah peran kebijaksanaan lokal bekerja. Orang-orang dewasa mengawasi, memastikan barisan tertib. Anak-anak diingatkan untuk tidak bermain-main dengan api. Tradisi tidak dibiarkan liar; ia dipelihara dengan tanggung jawab. Modernitas boleh datang dengan segala regulasinya, tapi masyarakat Lampoko sudah lama punya aturan tak tertulis tentang bagaimana menjaga tradisi tetap aman.

Marroma; Simbol Penyambutan Yang Suci

Tradisi marroma, mungkin masih banyak yang belum paham, terutama mereka yang dilabeli sebagai Gen Z. Namun, tradisi ini jauh sebelum android ada, ia sudah ada sebagai penanda bahwa sebuah bulan mulia sudah ada di ambang mata. Baik saat Muharram tiba, maupun bulan suci Ramadan. Kebiasaan ini merupakan bentuk penyambutan sekaligus pengharapan akan hal-hal baik yang diharapkan berdatangan bagi masyarakat di Mandar.

Yang paling menarik, mungkin, adalah makna “penyambutan dengan hati yang bersih”. Ini kalimat yang terdengar klise, tapi sulit diwujudkan. Membersihkan hati jauh lebih susah daripada menyiapkan obor. Minyak bisa dibeli di warung. Sabut bisa dicari. Tapi hati? Ia perlu kejujuran untuk mengakui salah, perlu keberanian untuk memaafkan, perlu kerendahan untuk meminta maaf. Pawai obor menjadi semacam pengingat visual bahwa sebelum memasuki Ramadan, ada kerja batin yang harus dilakukan.

Tanggal 17 Februari itu bukan sekadar angka. Ia menjadi penanda bahwa waktu terus berjalan. Sya’ban akan berakhir, Ramadan akan datang, lalu ia pun akan pergi. Tradisi pawai obor mengajarkan kesadaran akan siklus itu. Ia mengingatkan bahwa hidup juga begitu: ada fase persiapan, ada fase pelaksanaan, ada fase evaluasi. Ramadan adalah momentum evaluasi diri. Dan pawai obor adalah alarm lembut yang berbunyi: bersiaplah.

Dalam dunia yang sering memandang tradisi sebagai sesuatu yang kuno, Lampoko memberi pelajaran bahwa tradisi bisa menjadi jembatan. Ia menjembatani masa lalu dan masa kini. Ia menghubungkan nilai-nilai lama dengan konteks baru. Ia tidak anti-modern, tapi juga tidak larut sepenuhnya. Ia berdiri dengan identitasnya sendiri. Pawai obor mungkin terlihat sederhana, tapi ia menyimpan filosofi tentang cahaya, kebersamaan, dan harapan.

Akhirnya, ketika obor-obor itu perlahan padam, yang tersisa bukan cuma asap tipis di udara malam Campalagian. Yang tersisa adalah ingatan kolektif. Bahwa pernah ada malam ketika warga Lampoko berjalan bersama, membawa api sebagai simbol kesiapan menyambut bulan suci. Bahwa di tengah dunia yang makin ribut, mereka memilih menyalakan cahaya. Dan mungkin, di situlah inti dari marroma: bukan sekadar menyalakan sabut di ujung bambu, tapi menyalakan niat baik di dalam dada.

Karena pada akhirnya, Ramadan bukan tentang seberapa terang obor yang kita bawa, melainkan seberapa tulus hati yang kita siapkan. Dan di Lampoko, pada 29 Sya’ban 1947 H itu, orang-orang telah menunjukkan bahwa tradisi bisa menjadi cara paling jujur untuk berkata: kami menyambutmu, wahai bulan berkah, dengan cahaya dan harap yang terbaik.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x