Foto salah satu bangunan yang diklaim kontraktor masuk dalam tahan finhising. Foto: Tejo.POLMAN, AKARNEWS.ID– Pembangunan megaproyek Sekolah Rakyat di Kabupaten Polewali Mandar (Polman) kini berpacu dengan waktu jelang target operasi pada tahun ajaran baru, Juli 2026 mendatang. Di tengah tenggat waktu yang kian mepet, proyek ini kembali menuai sorotan akibat penyusutan jumlah gedung hingga temuan pengabaian standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lapangan.
Desain awal proyek yang digadang-gadang akan memiliki 15 gedung, kini dipastikan menyusut menjadi 13 gedung. Pihak pelaksana proyek dari PT. Hutama Karya mengonfirmasi bahwa perubahan ini terpaksa dilakukan karena terbentur tenggat waktu dan kondisi alam.
”Karena lokasinya (kondisi geografis) di Polman seperti ini, jadi hanya bisa didesain 13 gedung,” terang Perwakilan PT. Hutama Karya, Yusuf.
Selain pengurangan jumlah bangunan, perbandingan antara klaim progres pekerjaan dan realita di lapangan juga memantik perhatian publik. Manajemen proyek mengklaim bahwa pembangunan fisik saat ini sudah menyentuh angka 72,5 persen.
”Progres bangunan ini baru 72,5 persen,” ujar Deputy Project Manager Sekolah Rakyat Polman, Achmad Darozi saat ditemui di lokasi proyek, Jumat (26/6).
Namun, pantauan di lapangan menunjukkan fakta yang sedikit berbeda. Sejumlah bangunan yang diklaim telah memasuki tahap penyelesaian akhir (finishing) nyatanya masih berupa struktur dinding kasar.
Sedikitnya ada empat gedung dalam kondisi tersebut, sementara satu bangunan lain bahkan masih berada pada tahap pemasangan rangka konstruksi.
Sorotan tidak berhenti pada progres fisik semata. Masalah keselamatan kerja turut menjadi catatan setelah sejumlah pekerja terlihat beraktivitas di area konstruksi tanpa menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).
Menanggapi kelalaian tersebut, Achmad Darozi mengakui bahwa pengawasan di lapangan belum berjalan optimal dan berjanji akan segera mengevaluasi para pekerja.
”Seharusnya kalau ada pekerja yang tidak menggunakan APD langsung kami tegur sesuai prosedur. Pengawasannya akan kami perketat lagi,” tegas Ahmad.
Di sisi lain, terkait aspek keamanan bangunan yang berjarak cukup dekat dengan kawasan perbukitan, Ahmad memastikan bahwa proyek tersebut telah melewati serangkaian uji kelayakan. “Jaraknya 8 meter. Itu sudah diperhitungkan, sudah ada kajian teknisnya,” tambahnya.
Proyek yang dibiayai oleh anggaran negara ini rencananya akan mengintegrasikan 13 bangunan utama. Fasilitas tersebut mencakup 12 ruang kelas terpadu untuk jenjang SD, SMP, dan SMA, ditambah dengan masjid, tiga gedung asrama, rumah susun guru, dapur, hingga kantin. Khusus untuk ruang kelas, progres pembangunan disebut telah menyentuh angka 75 persen.
Sebelum rentetan persoalan teknis ini muncul, megaproyek Sekolah Rakyat Polman juga sempat dikritik terkait isu transparansi. Hal ini dipicu oleh kebijakan pelaksana proyek yang sempat membatasi akses awak media untuk mengambil gambar di lokasi, sehingga memunculkan pertanyaan publik mengenai keterbukaan informasi atas proyek bernilai fantastis tersebut.
Kini, dengan kondisi fisik bangunan yang masih menyisakan banyak pekerjaan konstruksi, pelaksana proyek dituntut bekerja ekstra keras demi mengejar target operasional bulan depan.


Tidak ada komentar