

Oleh: Aco Musaddad.HM, (Kadis Kominfo SP Polewali Mandar)
AKARNEWS.ID, OPINI – Dalam kurun waktu 300 hari atau sekitar 10 bulan kepemimpinan, sebuah pemerintahan seringkali baru berada pada tahap adaptasi birokrasi. Namun, duet kepemimpinan ASSAMI di Polewali Mandar menunjukkan tren yang berbeda.
Melalui pendekatan yang terukur, mereka berhasil menyeimbangkan antara pemenuhan hak dasar masyarakat (air bersih dan sanitasi) dengan penguatan konektivitas wilayah yang selama ini menjadi urat nadi ekonomi.
Memutus Sentralisme Pembangunan
Salah satu capaian paling mencolok adalah keberhasilan dalam akselerasi infrastruktur jalan. Dengan total penanganan jalan lokal sepanjang 8.536 meter yang tersebar di berbagai kecamatan, ASSAMI sedang mengirimkan pesan kuat: pembangunan tidak boleh hanya berpusat di ibu kota kabupaten.
Lebih jauh lagi, kemampuan lobi politik dan koordinasi dengan Pemerintah Pusat membuahkan hasil signifikan berupa penanganan jalan long segment sepanjang 113,45 km melalui dana APBN. Ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan solusi nyata bagi mobilitas logistik di wilayah perbatasan Sulbar-Sulsel yang krusial bagi pertumbuhan ekonomi regional.
Intervensi Kesehatan melalui Infrastruktur Dasar
Banyak yang melihat pembangunan jaringan air minum di 17 lokasi dan sanitasi (SPALD) di 28 lokasi (mencakup 900 Sambungan Rumah) hanya sebagai proyek fisik biasa. Namun, secara substansi, ini adalah investasi manusia.
Infrastruktur dasar inilah yang menjadi senjata utama dalam menurunkan angka stunting dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Secara teoritis, intervensi ini berkontribusi langsung pada kenaikan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), khususnya pada komponen umur harapan hidup.
Revolusi Pengelolaan Sampah: Dari Masalah Menjadi Komoditas
Masalah sampah yang sempat menjadi “beban sejarah” di Polman kini mulai menemukan solusi fundamental. ASSAMI melakukan dua pendekatan sekaligus: teknologi dan ekonomi sirkular.
Teknologi Incinerator: Pengadaan unit berkapasitas 20 ton/hari merupakan langkah taktis untuk memutus kebuntuan tumpukan sampah di TPA.
Pemberdayaan Masyarakat: Lonjakan nasabah Bank Sampah sebesar 30% serta pengiriman 43,8 ton sampah plastik ke Makassar menunjukkan adanya pergeseran paradigma. Sampah kini mulai dipandang sebagai komoditas ekonomi yang memiliki nilai jual.
Dengan rencana operasional mesin pemilah kapasitas 30 ton/hari pada tahun 2026, kita melihat sebuah roadmap yang jelas, bukan sekadar kebijakan reaktif sesaat.
Ringkasan Capaian Strategis (Februari – Desember 2025)
– Sektor Indikator Capaian Output Utama, Jalan Konektivitas Wilayah 8,53 km (Lokal) & 113,45 km (Nasional)
– Air Minum Perluasan Akses Jaringan baru di 17 Desa/Kelurahan
– Sanitasi Kesehatan Lingkungan 900 Sambungan Rumah (SR) SPALD
– Sampah Teknologi & Sirkular Incinerator 20t/hari & 600 Nasabah Bank Sampah
– Kemiskinan Program P3KE Rehabilitasi Sanitasi & SPAM Desa Batetangnga
Catatan Kritis: Menjaga Keberlanjutan
Meski fondasi yang diletakkan dalam 300 hari ini sangat masif, tantangan sesungguhnya adalah sustainability (keberlanjutan). Pembangunan fisik seperti drainase sepanjang 1.239 meter akan sia-sia jika perilaku membuang sampah sembarangan masih terjadi. Pengawasan dan edukasi publik harus berjalan beriringan dengan pembangunan fisik.
Selain itu, kemandirian desa melalui TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) harus terus didorong. Harapannya, setiap desa mampu mengelola sampahnya secara mandiri, sehingga beban kabupaten menjadi lebih ringan dan ekosistem lingkungan tetap terjaga.
Kepemimpinan ASSAMI dalam 300 hari pertama telah berhasil membuktikan bahwa dengan target yang presisi (seperti program P3KE di Desa Batetangnga), kemiskinan ekstrem dapat ditekan dan IPM dapat ditingkatkan.
Jika ritme koordinasi pusat-daerah dan partisipasi publik ini tetap terjaga, visi Polewali Mandar yang Sehat, Cerdas, dan Maju bukan lagi sekadar slogan, melainkan realitas yang sedang kita tuju bersama.


Tidak ada komentar