
Oleh: Hamzah Durisa
(Penggerak GUSDURian/Pegiat Literasi/ ASN Kankemenag Pasangkayu)
OPINI – Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pernah meninggalkan sebuah pesan yang hingga kini masih sering dikutip: Jasmerah, singkatan dari “Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”.
Pesan itu sesungguhnya bukan sekadar ajakan untuk mengenang masa lalu, melainkan sebuah peringatan agar manusia senantiasa belajar dari perjalanan yang telah dilalui. Sebab, banyak kebijaksanaan yang lahir dari sejarah, dan banyak kesalahan yang dapat dihindari apabila manusia tidak melupakan jejak-jejak masa lampau.
Pesan tersebut terasa relevan ketika bulan Muharram kembali datang. Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah hadir tanpa kemeriahan yang berlsebihan.
Ia datang dengan tenang, seolah mengajak manusia untuk berhenti sejenak dan merenungkan perjalanan hidupnya. Bagi masyarakat yang hidup jauh dari pusat kota, yang akrab dengan hamparan sawah, kebun kelapa, dan debur ombak di pesisir, Muharram bukan sekadar pergaantian angka, melainkan momentum untuk menengok diri dan memperbarui niat menuju kehidupan yang lebih baik.
Sejarah Penanggalan Hijriah
Berbicara tentang Hijriah berarti berbicara tentang sejarah. Penanggalan Hijriah yang digunakan umat Islam saat ini tidak langsung ditetapkan pada masa Rasulullah saw.
Kalender tersebut baru disusun pada masa Khalifah Umar bin Khattab ketika wilayah Islam semakin luas dan urusan pemerintahan memerlukan sistem penanggalan yang baku.
Para sahabat kemudian bermusyawarah untuk menentukan peristiwa besar yang layak dijadikan awal perhitungan tahun. Ada yang mengusulkan tahun kelahiran Nabi Muhammad saw., ada pula yang mengusulkan tahun turunnya wahyu pertama.
Namun, para sahabat akhirnya sepakat menjadikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. dari Makkah ke Madinah sebagai titik awal kalender Islam.
Pilihan itu mengandung pesan yang sangat mendalam. Islam tidak menjadikan kemenangan perang ataupun kekuasaan sebagai tonggak peradabannya, melainkan menjadikan hijrah sebagai simbol perubahan.
Dari peristiwa hijrah itulah lahir masyarakat Madinah yang dibangun di atas fondasi persaudaraan, keadilan, dan penghormatan terhadap keberagaman. Karena itu, setiap datangnya bulan Muharram, umat Islam sesungguhnya sedang diingatkan pada sebuah sejarah besar yang mengajarkan bahwa perubahan menuju keadaan yang lebih baik merupakan bagian dari perjalanan hidup manusia.
Makna Hijrah dalam Kehidupan
Hijrah Nabi Muhammad saw. bukan hanya perpindahan tempat dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah keberanian meninggalkan keadaan yang buruk menuju keadaan yang lebih baik. Ia merupakan perjalanan batin yang menuntut keikhlasan, kesabaran, dan keteguhan hati. Makna hijrah itu hadir dalam berbagai profesi dan kehidupan sehari-hari.
Bagi seorang Aparatur Sipil Negara, hijrah berarti berpindah dari sekadar menggugurkan kewajiban menuju pengabdian yang tulus. Jabatan bukanlah tempat mencari kenyamanan semata, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Hijrah bagi ASN adalah bekerja dengan integritas, memberikan pelayanan yang ramah, dan terus meningkatkan kompetensi demi kepentingan masyarakat.
Untuk pedagang kecil di pasar, hijrah berarti menjaga kejujuran dalam timbangan dan transaksi. Keberkahan rezeki tidak selalu diukur dari besarnya keuntungan, melainkan dari ketenangan hati dalam mencari nafkah. Bagi petani, hijrah adalah kesabaran yang terus diperbarui.
Mereka memahami bahwa benih yang ditanam hari ini tidak serta-merta menghasilkan panen esok hari. Ada waktu yang harus ditunggu dan ada ikhtiar yang harus dilakukan dengan penuh ketekunan.
Para nelayan pun demikian. Laut mengajarkan bahwa manusia hanya mampu berusaha, sedangkan hasil akhirnya tetap berada dalam kehendak Allah. Hijrah bagi nelayan adalah keberanian untuk terus melaut tanpa kehilangan rasa syukur.
Guru memiliki hijrah yang tak kalah mulia. Mereka berhijrah dari sekadar menyampaikan pelajaran menjadi penanam nilai dan pembentuk karakter. Melalui kesabaran dan keteladanan, para guru sesungguhnya sedang menyalakan masa depan bangsa.
Bagi jurnalis, hijrah berarti berpindah dari sekadar mengejar kecepatan berita menuju keberanian menjaga kebenaran. Sedangkan bagi pemerintah, hijrah berarti menghadirkan keadilan, membangun kepercayaan masyarakat, serta memastikan bahwa pembangunan benar-benar dirasakan oleh rakyat hingga ke daerah-daerah pelosok.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki jalan hijrahnya masing-masing. Tidak semua hijrah harus terlihat besar. Kadang-kadang, hijrah justru dimulai dari perubahan-perubahan kecil yang dilakukan secara kontinu.
Muharram dan Refleksi Perjalanan Diri
Bagi masyarakat biasa yang hidup jauh dari pusat kekuasaan, hijrah mungkin tampak sederhana. Mungkin hanya berupa usaha untuk lebih sabar mendidik anak, lebih rajin beribadah, lebih peduli kepada tetangga, atau lebih banyak bersyukur atas nikmat yang dimiliki. Namun, bukankah perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil?
Kehidupan di desa dan pesisir mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu identik dengan kemewahan. Secangkir kopi di teras rumah, obrolan hangat dengan tetangga, suara anak-anak yang bermain menjelang magrib, serta hamparan sawah yang menghijau adalah nikmat yang sering kali luput dari perhatian.
Muharram mengingatkan bahwa waktu tidak pernah berhenti berjalan. Umur terus bertambah, kesempatan semakin berkurang, dan perjalanan menuju akhirat semakin mendekat. Karena itu, Tahun Baru Hijriah bukan sekadar momentum untuk saling mengucapkan selamat, tetapi juga kesempatan untuk melakukan muhasabah dan memperbarui niat.
Barangkali kita belum mampu melakukan perubahan besar. Tidak mengapa. Sebab Allah tidak menilai seberapa tinggi kedudukan seseorang ataupun seberapa besar langkah yang telah ditempuh. Yang dinilai-Nya adalah ketulusan niat dan kesungguhan untuk terus memperbaiki diri.
Dari desa-desa yang jauh dari pusat kota, dari kebun-kebun dan pesisir yang sederhana, dari pasar-pasar kecil dan kantor-kantor pelayanan yang tidak ramai diberitakan, semoga datangnya 1 Muharram 1448 Hijriah menghidupkan kembali kesadaran bahwa hijrah adalah tugas setiap manusia.
Sebab pada akhirnya, manusia terbaik bukanlah mereka yang paling tinggi kedudukannya, melainkan mereka yang hari ini berusaha menjadi lebih baik daripada hari kemarin, dan esok berusaha lebih baik daripada hari ini. Itulah hakikat Hijriah, dan itulah makna hijrah yang sesungguhnya.


Tidak ada komentar