Mengembalikan Martabat Guru: Menafsir Ulang Slogan Ki Hajar di Era Media Sosial

Avatar photo
Kamaruddin Kay
25 Nov 2025 13:58
7 menit membaca

Oleh: Muhammad Risal

AKARNEWS.ID, OPINI – Setiap tahun, tepat pada tanggal 25 November, bangsa ini merayakan Hari Guru Nasional. Di berbagai ruang digital, ucapan terima kasih dan potret nostalgia bersama para guru bertebaran. Di sekolah-sekolah, murid-murid membawa bunga plastik dan kue sederhana sebagai tanda hormat. Namun, di balik semua itu, ada kegelisahan yang semakin hari semakin terasa, apakah guru Indonesia hari ini masih berdiri sebagaimana yang dulu dibayangkan oleh Ki Hajar Dewantara? Ataukah posisi moral dan sosial mereka mulai luntur oleh derasnya arus zaman?

Seiring berkembangnya teknologi dan budaya digital, profesi guru mengalami perubahan yang tidak kecil. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus tampil kreatif, adaptif, relevan, dan terkadang “menghibur.” Di banyak sekolah, guru merasa perlu menjadi figur yang mampu menarik perhatian murid bukan lewat keteladanan, tetapi lewat atraksi. Pembelajaran yang menyenangkan sering disalahartikan sebagai kelas yang harus selalu ramai, dipenuhi canda tawa, dan trik hiburan yang seakan menjadi syarat mutlak untuk membuat murid tetap betah.

Di sisi lain, media sosial mengubah cara murid dan orang tua memandang guru. Kamera kini bisa menyala kapan saja, merekam segala hal tanpa konteks, dan menjadikannya konsumsi publik. Guru tidak lagi hanya dinilai oleh ruang kelas, tetapi juga oleh apa yang ia unggah, apa yang ia “like”, apa yang ia rekam, dan apa yang tersebar tanpa sepengatahuannya. Martabat guru kini tidak hanya diuji di ruang kelas, tetapi juga di ruang digital yang tak mengenal batas dan sering kali tanpa belas kasih.

Di tengah kondisi semacam ini, tiga kalimat pendek dari Ki Hajar Dewantara kembali relevan untuk direnungkan. Kalimat yang ditempel di banyak kelas, tetapi sangat jarang dipahami secara mendalam:

Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karsa,Tut wuri handayani.

Ki Hajar Dewantara memberikan kompas moral tiga arah yang seharusnya menjadi pegangan abadi seorang pendidik. Namun kompas ini sering disalahpahami, bahkan dilewati, dalam hiruk pikuk pendidikan modern.

Teladan yang Mulai Kabur

Prinsip pertama, ing ngarso sung tulodo, mengandung makna bahwa ketika seorang guru berada di depan murid, ia harus menjadi teladan. Tidak sekadar penyampai materi, tetapi contoh hidup, dalam ketepatan waktu, cara berpakaian, cara berbicara, pilihan kata, kejujuran, kesabaran, hingga gaya hidup. Keteladanan tidak pernah lahir dari teori, tetapi dari laku yang konsisten.

Namun tantangan era digital begitu besar. Kita melihat tidak sedikit guru terjebak dalam euforia konten media sosial. Ada guru yang menari TikTok di kelas, ada yang merekam murid tanpa izin untuk kebutuhan konten, bahkan ada yang meniru tren-tren yang sebenarnya jauh dari nilai kesopanan yang seharusnya melekat pada sosok pendidik.

Fenomena ini bukan cerita kosong. Hampir setiap minggu muncul video yang memperlihatkan guru berjoget dengan gaya yang tidak pantas, atau guru membuat konten humor yang merendahkan dirinya sendiri. Memang benar bahwa guru juga manusia, tetapi profesi guru menuntut batas moral tertentu yang harus dijaga. Ketika guru tampil di media sosial dengan cara yang tidak pantas, murid akan menyimpannya sebagai referensi perilaku. Orang tua akan mempertanyakannya. Masyarakat akan membicarakannya.

Dan pada titik itu, wibawa yang dibangun dengan susah payah bisa runtuh hanya dalam durasi 15 detik konten.

Guru Sebagai Penggerak Semangat, Bukan Penghibur

Kalimat kedua, ing madyo mangun karsa, menegaskan bahwa ketika seorang guru berada di tengah murid-muridnya, ia harus menjadi penggerak, penyemangat, bukan penguasa dan bukan pula badut penghibur. Namun kenyataannya, tuntutan pembelajaran modern sering memosisikan guru harus selalu “menyenangkan”.

Konsep pembelajaran menyenangkan yang sejatinya baik sering kali dipahami secara keliru. Guru merasa perlu terus membuat ice breaking, berakting lucu, membuat lelucon, atau melakukan hal-hal yang membuat kelas ramai. Banyak guru akhirnya merasa harus tampil seperti komedian agar murid betah.

Padahal keceriaan bukanlah satu-satunya indikator pembelajaran yang baik. Kelas tidak harus selalu bergemuruh. Ada kalanya keheningan justru menjadi ruang bagi murid untuk berpikir mendalam. Ada kalanya ketegasan adalah bentuk kasih sayang yang sesungguhnya. Ada kalanya guru harus berdiri dengan wibawa, bukan dengan kelucuan.

Bila guru terus didorong menjadi entertainer, maka konsep pendidikan berubah menjadi hiburan. Murid akan terbiasa melihat guru sebagai sosok yang lucu, bukan sosok yang dihormati. Hilang sudah makna mangun karsa yang sebenarnya.

Guru sebagai Penuntun Moral, Bukan Peserta Tren

Prinsip ketiga, tut wuri handayani, sering diartikan sebagai “guru memberi dorongan dari belakang.” Dalam konteks pendidikan modern, ini berarti guru memberi ruang kepada murid untuk berkembang, bereksplorasi, dan menemukan jati diri. Namun dorongan itu harus tetap dalam koridor nilai, dengan guru sebagai penuntun sekaligus pengingat moral.

Masalahnya muncul ketika guru merasa harus “mengikuti zaman” dengan cara meniru tren murid. Ada yang menganggap bahwa menjadi modern berarti menjadi sama dengan murid-muridnya. Padahal guru bukan teman sebaya; guru adalah sosok yang seharusnya sedikit lebih tinggi secara moral dan kebijaksanaan.

Jika guru tidak lagi memberi batas, murid akan kehilangan arah. Jika guru tidak memberi contoh dalam pengendalian diri, siapa lagi yang bisa diandalkan untuk membimbing generasi muda?

Tekanan Sosial yang Menyudutkan Guru

Masalah yang dihadapi guru tidak berhenti di situ. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak kasus menunjukkan bagaimana posisi guru semakin rentan. Guru menegur murid bisa direkam diam-diam. Guru menahan ponsel murid bisa menjadi viral dan disalahartikan. Bahkan guru ditegur, diprotes, atau dilaporkan ke pihak berwajib hanya karena mengambil tindakan disiplin.

Ada kasus guru yang memarahi murid karena membawa ponsel sembarangan, lalu videonya dipotong sehingga terlihat seolah-olah guru sedang mengintimidasi. Ada kepala sekolah di wilayah Jawa yang menampar siswa merokok di lingkungan sekolah suatu tindakan indisipliner yang jelas melanggar aturan namun orang tua justru melapor ke polisi. Di kota lain, seorang guru BK yang menasehati murid malah viral karena hanya potongan videonya yang tersebar.

Dalam atmosfer seperti ini, guru semakin takut mengambil tindakan tegas. Mereka merasa diawasi, dicurigai, bahkan diposisikan sebagai pihak yang salah dalam banyak hal. Padahal disiplin adalah bagian tak terpisahkan dari pendidikan.

Hari Guru Nasional 2025: Momentum Kembalinya Martabat

Hari Guru Nasional tahun ini harus menjadi ajang refleksi besar-besaran: apa yang ingin kita lihat dari seorang guru? Apakah guru harus viral? Apakah guru harus selalu lucu? Apakah guru harus mengikuti semua tren media sosial agar dianggap relevan?

Atau kita merindukan guru yang bijak? Guru yang tegas? Guru yang tidak mudah tergoda gimmick popularitas?

Martabat guru tidak boleh dikalahkan oleh keinginan tampil. Guru harus tetap menjadi sosok yang dihormati karena integritasnya, bukan karena kelucuannya. Martabat guru adalah milik bersama, dan harus dijaga bersama.

Memanfaatkan Media Sosial dengan Bijak

Teknologi tentu tidak boleh dihindari. Guru tetap perlu berada di ruang digital, tetapi dengan cara yang tepat. Media sosial bisa menjadi sarana refleksi, tempat berbagi ilmu, ruang inspirasi, bahkan wadah membangun jejaring profesional. Guru tidak harus alergi dengan tren, tetapi guru harus memilih mana yang pantas untuk diikuti dan mana yang lebih baik dihindari.

Guru tetap dapat membuat konten pembelajaran, berbagi pengalaman, atau menampilkan kreativitas dalam bentuk yang bermartabat. Dengan cara ini, guru tidak kehilangan identitasnya, tetapi justru memperkuat citranya sebagai pendidik modern yang tetap berkarakter.

Ice Breaking: Manfaatkan, Bukan Dijadikan Panggung

Ice breaking memang diperlukan, tetapi harus proporsional. Fungsinya bukan untuk menjadikan guru lucu, tetapi untuk membuat suasana lebih kondusif. Guru tidak perlu mengorbankan wibawa dengan lelucon berlebihan atau aksi-aksi yang menjatuhkan harga diri. Pembelajaran yang baik bukan soal seberapa banyak tawa yang muncul, tetapi seberapa banyak nilai yang tertanam.

Guru sebagai Teladan 24 Jam

Guru adalah profesi yang tidak pernah lepas dari pandangan. Bahkan di luar jam sekolah, guru tetap menjadi figur publik. Murid memperhatikan bagaimana gurunya berperilaku di luar sekolah, bagaimana gurunya bermedia sosial, bagaimana gurunya menyikapi masalah.

Ketika guru mampu menjaga marwah ini, maka rasa hormat murid akan terbangun secara alami. Dan rasa hormat adalah fondasi utama pembelajaran yang bermakna.

Martabat Guru adalah Martabat Bangsa

Mengembalikan martabat guru bukan sekadar urusan guru. Ini adalah urusan bangsa. Karena bangsa yang kehilangan wibawa gurunya akan kehilangan arah pendidikannya. Dan bangsa yang kehilangan arah pendidikannya akan kehilangan masa depannya.

Tiga kalimat pendek dari Ki Hajar Dewantara bukan slogan kosong. Itu adalah cahaya moral yang seharusnya menuntun para pendidik melewati zaman apa pun. Guru boleh berubah, boleh beradaptasi, boleh kreatif, tetapi tidak boleh kehilangan esensi dirinya: teladan moral bagi generasi bangsa.

Selamat Hari Guru Nasional 2025.S emoga para guru kembali menemukan arah untuk berdiri tegak dengan wibawa, cinta, dan integritas yang abadi.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x