Refleksi Hari Perempuan Sedunia : Catatan dari Film‘Jangan Panggil Mama Kafir’ Cinta Tanpa Sekat Seorang Ibu

Avatar photo
Kamaruddin Kay
8 Mar 2026 18:41
6 menit membaca

Oleh : Hamzah Durisa, (Pegiat Literasi/ Penggerak GUSDURian)

OPINI – Hari Perempuan Sedunia yang jatuh hari Minggu, 8 Maret hari ini selalu menjadi momentum untuk menengok kembali perjalanan panjang perempuan—tentang perjuangan, pengorbanan, dan cinta yang sering kali tidak tercatat dalam sejarah besar, tetapi hidup dalam keseharian yang sunyi.

Perempuan bukan hanya simbol kelembutan, melainkan juga ruang keteguhan batin yang luar biasa. Di dalam dirinya, dunia sering kali menemukan bentuk cinta yang paling tulus:cinta seorang ibu kepada anaknya.

Pelajaran Berharga dari Sebuah Film

Refleksi ini terasa begitu kuat ketika kita menonton film “Jangan Panggil Mama Kafir.” Film ini bukan sekadar kisah rumah tangga lintas agama, tetapi potret kemanusiaan yang lembut sekaligus menggetarkan.

Ia memperlihatkan perjalanan seorang perempuan Kristen yang menikah dengan seorang laki-laki Muslim. Dari pernikahan itu lahirlah seorang anak perempuan yang kemudian dibesarkan dalam tradisi Islam. Konflik pun muncul, bukan hanya dari lingkungan sosial, tetapi juga dari kegamangan batin yang tidak selalu mudah diungkapkan.

Di tengah masyarakat yang sering kali memandang perbedaan agama sebagai batas yang tegas dan tidak boleh dilampaui, kisah dalam film ini justru menghadirkan sesuatu yang lebih dalam: cinta seorang ibu yang melampaui batas identitas formal. Perempuan dalam cerita itu tidak berhenti menjadi ibu hanya karena perbedaan keyakinan.

Ia tidak berhenti mencintai anaknya hanya karena sang anak menjalani jalan spiritual yang berbeda dari dirinya. Justru di situlah letak kedalaman cinta itu—ia tidak menuntut, tidak memaksa, dan tidak memenjarakan.
Seorang ibu, pada dasarnya, selalu berada pada titik pengorbanan.

Ia mungkin memiliki keyakinan yang kuat, tetapi ketika berhadapan dengan masa depan anaknya, hatinya sering kali memilih jalan yang paling menenangkan bagi sang anak. Bukan karena ia menganggap keyakinannya tidak penting, melainkan karena ia memahami bahwa cinta kepada anak adalah bagian dari panggilan kemanusiaan yang paling dalam.

Dalam film itu, sang ibu harus menerima kenyataan bahwa putrinya tumbuh sebagai seorang Muslimah. Dalam kehidupan sehari-hari, anak itu belajar membaca Al-Qur’an, mengenal salat, dan menjalani praktik keagamaan yang berbeda dengan tradisi ibunya. Bagi sebagian orang, situasi ini mungkin tampak sebagai kehilangan. Namun bagi seorang ibu, itu tidak selalu demikian.

Seorang ibu sering kali melihat kehidupan dengan perspektif yang lebih luas daripada sekadar identitas. Ia melihat masa depan anaknya, keselamatannya, kebahagiaannya, dan ketenangan hidupnya.

Jika jalan itu membuat anaknya tumbuh menjadi manusia yang baik, penuh kasih, dan bermoral, maka seorang ibu sering kali memilih untuk berdiri di belakangnya—meski itu berarti ia harus menelan banyak kesunyian dalam dirinya.
Di sinilah kita melihat dimensi spiritual dari cinta seorang ibu.

Cinta itu tidak selalu berbicara dengan suara keras. Ia sering hadir dalam bentuk diam yang panjang, dalam doa yang tidak diketahui siapa pun, dalam pengorbanan yang tidak pernah diumumkan kepada dunia.
Hari Perempuan Sedunia mengingatkan kita bahwa perempuan, terutama para ibu, adalah penjaga kehidupan yang paling setia.

Mereka tidak selalu muncul di panggung besar, tetapi merekalah yang membentuk manusia-manusia yang kemudian mengisi panggung sejarah.
Film Jangan Panggil Mama Kafir yang dibintangi Michelle Ziudith dan Giorgino Abraham ini mengajak kita melihat kembali cara kita memandang perbedaan.

Kata “kafir” dalam judul film itu sebenarnya menjadi simbol dari luka sosial yang sering kita ciptakan sendiri. Kata itu sering digunakan untuk menandai perbedaan, bahkan terkadang untuk menegaskan jarak. Namun ketika kata itu diarahkan kepada seorang ibu, kita tiba-tiba menyadari betapa kerasnya label itu terdengar.

Cinta Seorang Ibu

Bagaimana mungkin seorang ibu yang mengandung, melahirkan, merawat, dan membesarkan anaknya dengan penuh cinta, kemudian dipanggil dengan sebutan yang merendahkan? Di titik inilah film ini menyentuh sisi kemanusiaan kita. Ia tidak sedang memperdebatkan teologi atau mencoba menafikan ajaran agama apa pun.

Sebaliknya, ia mengajak kita melihat bahwa di balik semua perbedaan itu, ada satu bahasa universal yang dipahami semua manusia: cinta seorang ibu.
Seorang ibu tidak pernah menghitung berapa banyak yang sudah ia berikan. Ia tidak menimbang apakah cintanya dibalas dengan cara yang sama atau tidak. Ia hanya memberi. Ia memberi waktu, memberi tenaga, memberi perhatian, dan sering kali memberi sebagian dari dirinya sendiri.

Dalam banyak tradisi agama, sosok ibu selalu ditempatkan pada posisi yang mulia. Islam, misalnya, menempatkan ibu pada tiga lapisan penghormatan sebelum ayah.

Tradisi Kristen juga memuliakan figur keibuan sebagai lambang kasih yang tanpa syarat. Bahkan dalam berbagai kebudayaan lokal di Nusantara, ibu sering disebut sebagai “rumah pertama” bagi kehidupan. Artinya, di manapun manusia berada, penghormatan kepada ibu selalu menjadi nilai universal. Bahkan, Allah pun menempatkan ridhonya pada ridhonya seorang ibu.

Film ini mengingatkan kita bahwa penghormatan itu harus melampaui batas identitas keagamaan. Seorang ibu tidak bisa direduksi hanya oleh label agama yang melekat padanya. Ia adalah manusia yang mencintai, berjuang, dan berkorban. Sering kali kita terlalu sibuk mempertahankan identitas kelompok hingga lupa melihat kemanusiaan di depan mata.

Padahal jika kita mau jujur, banyak konflik sosial yang sebenarnya bisa mencair jika kita melihat orang lain terlebih dahulu sebagai manusia, bukan sebagai identitas. Seorang ibu dalam film itu tidak meminta anaknya meninggalkan keyakinannya. Ia juga tidak memaksakan keyakinannya kepada anaknya. Ia hanya ingin tetap diakui sebagai ibu—seorang perempuan yang mencintai anaknya dengan sepenuh hati.

Dan di situlah pelajaran penting bagi kita semua. Walau pada akhirnya sosok Maria dalam film itu memilih menjadi muallaf, lagi-lagi ini bukan hanya persoalan agama semata, tetapi ini adalah soal cinta seorang ibu yang menginginkan hal terbaik bagi putri semata wayangnya yang lebih dulu kehilangan sosok ayah dalam hidupnya.

Hari Perempuan Sedunia bukan hanya tentang kesetaraan atau perjuangan hak-hak perempuan. Ia juga tentang mengakui kedalaman batin perempuan, terutama para ibu, yang sering kali menanggung beban emosional yang tidak terlihat oleh dunia. Cinta seorang ibu sering kali bekerja dalam keheningan. Ia tidak memerlukan panggung. Ia tidak menuntut pengakuan. Tetapi tanpa cinta itu, banyak kehidupan tidak akan pernah tumbuh dengan baik.

Pelajaran Penting

Pada akhirnya, kisah dalam film Jangan Panggil Mama Kafir membawa kita pada satu kesadaran yang sederhana namun mendalam: bahwa sebelum manusia dipisahkan oleh identitas, keyakinan, dan berbagai label sosial, kita semua terlebih dahulu dipersatukan oleh pengalaman yang sama—menjadi anak dari seorang ibu.

Dari rahimnya kita lahir, dari tangannya kita belajar berjalan, dan dari cintanya kita pertama kali mengenal arti kasih yang tidak bersyarat. Kasih sayang seorang ibu tak mengenal batas. Ia tetap mendoakan, tetap merawat, tetap berharap yang terbaik, bahkan ketika dunia mencoba memberi jarak di antara mereka.

Karena itu, pada Hari Perempuan Sedunia ini, mungkin refleksi paling bijak yang bisa kita renungkan adalah belajar melihat manusia dengan hati yang lebih luas. Menghormati seorang ibu berarti juga menghormati kemanusiaan itu sendiri. Kita boleh berbeda dalam keyakinan, tradisi, dan cara beribadah, tetapi cinta seorang ibu mengajarkan bahwa kebaikan selalu menemukan jalannya di antara perbedaan.

Dan barangkali, jika dunia mau belajar sedikit saja dari ketulusan hati para ibu, kita akan menyadari bahwa kasih sayang jauh lebih kuat daripada sekat-sekat yang sering kita bangun sendiri

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x