Memperhatinkan! Safi’i Bocah 13 Tahun di Polman Lumpuh Sejak Lahir, Tinggal di Kolong Rumah

Avatar photo
Kamaruddin Kay
31 Jan 2025 19:50
4 menit membaca

AKARNEWS.ID, POLMAN – Namanya Safi’i, seorang bocah 13 tahun warga Lingkungan Ujung kelurahan Polewali Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat harus terbaring lemah di tempat tidur karena menderita sakit.

Sejak lahir pada tahun 2011 lalu, ia telah menderita lumpuh layu sehingga ia terpaksa harus terus berbaring di tempat tidur selama 13 tahun lamanya.

Anak bungsu dari pasangan suami istri Arifin dan Hajra ini tinggal di rumah tantenya (saudara dari ibunya) di jalan Pangiu lorong Tengah Lingkungan Ujung, Kelurahan Polewali. Ia lahir tiga bersaudara, anak pertama namanya Takwin kerja di Morowali, anak kedua Arif juga tinggal bersama tantenya dan dan Safi’i sendiri.

Saat usianya masih 8 tahun, ia sudah menjadi anak yatim piatu setelah kedua kedua orang tuanya meninggal dunia. Ayahnya Arifin meninggal dunia pada tahun 2017 lalu disusul ibunya pada tahun 2019 lalu.

Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia, ia dirawat oleh tantenya (saudara dari ibunya). Namun kondisi kehidupan tantenya juga sangat pas-pasaan dan memprihatinkan karena ia menjadi tulang punggung keluarga karena ia kini telah bercerai dengan suaminya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tantenya hanya berjualan kue apang dan sekali-kali menjual nasi kuning.

Safi’i tinggal dirumah panggung milik tantenya berukuran 7×10 meter persegi. Ia tinggal dibawah kolong rumah karena lantai atas rumahnya sudah tidak layak huni.

Lantai bawah rumah ini merupakan tempat tidur jiga sekaligus menjadi dapur dan segala aktifitas dikerjakan di bawah kolong rumah. Sebagain dinding dapur sudah rusak dan jebol dan posisi rumahnya juga sudah miring dan terancam ambruk sehingga ada beberapa tiang terlihat ditopang oleh bambu.

Tak ada perabotan mewah di rumah maupun, dapurnya hanya terlihat perabot sederhana. Ia juga tidak memiiki kamar mandi dan toilet yang layak, hanya bak penampungan tanpa ada didning penutup kamar mandi.

Menurut tantenya, Hasma mengatakan, ia pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah dan berbagai donatur serta relawan komunitas kemanusiaan.

Bantuan dari pemerintah berupa beras 10 kilogram tetapi itu tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari karena beras tersebut terkadang diterima selama 3 bulan sekali.

Begitu pun dengan bantuan kartu ATM (berwarna merah putih) ia mendapatkan uang sebesar 200- hingga 400 per 3 bulan. Menurutnya sebelumnya ia pernah mendapat bantuan seperi BLT dan PKH namun sejak dua tahun terakhir bantuan tersebut sudah tidak diterima lagi.

“Saya tidak tahu pak kenapa bantuan itu terputus”katanya.

Namanya pernah diusulkan masuk dalam daftar sebagai penerima bantuan program bedah rumah dari pemerintah. Namun setelah mendekati penyerahan namanya lalu dicoret dari daftar penerima bantuan bedah rumah.

Ia mengaku kecewa sebab sebelumnya petugas telah meminta berkas administrasi untuk kelengkapan berkasnya. Ia juga merasa malu karena sebelumnya disuruh mencari tukang dan material bangunan untuk bedah rumah twtapi akhirnya namanya dicoret dari daftar tersebut dengan alasan melanggar aturan karena letak rumahnya dekat dari pesisir pantai.

“Padahal rumah saya ini jauh dari bibir pantai. Semiga pemerintah bisa membantu saya dengan bedah rumah”harapnya.

Sementara itu kepala lingkungan ujung Polewali Muliadi megakui jika kondisi kehidupan Sari’i dan tantenya memang sudah hidup

Ia mengatakan sebagai kepala lingkungan akan tetap memperhatikan warga tersebut dan memberibbantuan dalam hal ini bantuan beras.

Ia mengakui jika keluarga Safi’i pernah menerima bantuan sosial berupa PKH, tetapi ia tidak tahu kenapa bantuan tersebut terputus. Namun ia akan melaporkan ke pemerintah kelurahan dan dinas terkait untuk mengecek nama tersebut apakah masih masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS). Mungkin ada

Sementara untuk beda rumahnya ia permah mengusulkan nama keluarga Safi’i tetapi karena adanya aturan dari dinas terkait uang tidak boleh dibangun jika berada dekat dari pesisir pantai.

“Aturan bedah rumah ini memang agak rancu padahal di daerah pesisir lainnya seperti tonyaman dan takatidung justru ada yang dapat bantuan seperti itu” ujarnya.

Terpisah kepala bidang dinas Sosial Sumarni yang dikonfirmasi Jumat (31/1/2025) mengatakan keluarga ini sudah pernah diberi bantuan baik dari dinas sosial maupun dari beberapa lembaga lainnya.

Ia mengatakan jika ada bantuan dari pihak lain juga pasti kami prioritaskan kepada keluarga tersebut. Mengenai bantuan sosialnya serpti PKh dan BNPT yang terputus ia akan mendatangi kembali rumah keluarga Safi’i untuk melakukan kroscek apa penyenbabnya sehingga bantuan tersebut terputus.

“Nanti saya akan coba cek ke lapangan dan namanya di DTKS”pungkasnya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x