Dari Hormuz ke Sulawesi Barat: Potensi Krisis Global ke Ketahanan Ekonomi Daerah

Avatar photo
Kamaruddin Kay
13 Apr 2026 19:03
3 menit membaca

Penulis : Zulkarnain Hasanuddin, S.E.,M.M (Dosen STIE Yapman Majene)

OPINI – Eskalasi konflik di Timur Tengah pasca kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, pada 11-12 April 2026 yang berlangsung di hotel Serena Islamabad Pakistan, tidak hanya akan berdampak pada tataran global dan nasional, tetapi juga merembet hingga ke level daerah, kemungkinan besar termasuk Provinsi Sulawesi Barat.

Dalam konteks Sulawesi barat, dimana ekonomi daerah yang relatif masih bergantung pada pasokan energi dari luar dan memiliki struktur ekonomi yang belum sepenuhnya terdiversifikasi, guncangan eksternal ini berpotensi menimbulkan efek berlapis (multiplier effect) yang signifikan.

Kenaikan harga minyak dunia akibat gangguan distribusi di Selat Hormuz, berpotensi juga akan langsung dirasakan di Sulbar di waktu-waktu kedepan, walaupun pemerintah pusat menegaskan komitmen menjaga stabilitas harga BBM hingga Desember 2026, tetapi kondisi tersebut bisa jadi berubah pasca perundingan USA dan Iran ini gagal, sehingga kedepan kenaikan harga BBM tidak dapat dihindari sebagai efek kenaikan harga minyak dunia, dan akan berdampak pada naiknya biaya logistik terhadap distribusi komoditas.

Secara geografis, Sulbar memiliki karakteristik wilayah dengan konektivitas yang masih terbatas, sehingga biaya distribusi barang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga energi (BBM). Akibatnya, harga bahan pokok berpotensi kembali mengalami inflasi, terutama di wilayah-wilayah yang aksesibilitasnya rendah.

Dalam perspektif ekonomi, kondisi ini disebut sebagai cost-push inflation ( Inflasi dorongan-biaya ), di mana kenaikan biaya produksi dan distribusi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.

Jika dilihat dari struktur ekonomi Sulbar, yang masih didominasi oleh sektor primer seperti pertanian, perkebunan/kehutanan, dan perikanan ( Data : BPS Sulbar April 2026 ), 40% – 45% kontribusi terhadap PDRB/terutama komoditas sawit dan kakao, tentu akan membuat daerah ini sangat rentan terhadap kenaikan biaya produksi.

Harga pupuk, transportasi hasil panen, hingga distribusi ke pasar akan mengalami tekanan. Petani dan nelayan sebagai aktor utama ekonomi lokal berpotensi mengalami penurunan margin keuntungan, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat secara luas.

Dari sisi fiskal daerah, tekanan juga akan dirasakan melalui keterbatasan ruang anggaran, apalagi Provinsi Sulawesi Barat juga mengalami pemotongan anggaran ( efisiensi ) yang cukup signifikan, tahun 2026 berkisar Rp. 330 milyar dan jika di akumulasi dengan 6 kabupaten diperkirakan mendekati Rp. 1 triliun. Apalagi Ketergantungan pemerintah daerah terhadap transfer dari pusat masih sangat tinggi ( dominan ), akan membuat kemampuan fiskal daerah relatif terbatas dalam merespons krisis.

Ketika pemerintah pusat menghadapi tekanan APBN akibat subsidi energi, implikasinya dapat berupa penyesuaian transfer ke daerah. Hal ini berpotensi menghambat pelaksanaan program pembangunan di Sulbar, terutama yang berkaitan dengan infrastruktur dan layanan publik.

Dalam menghadapi situasi ini, pemerintah daerah di Sulawesi Barat agar melakukan respon cepat serta adaptif sebagai strategi preventif. Dengan melakukan penguatan ketahanan ekonomi daerah sebagai kunci, antara lain melalui diversifikasi ekonomi lokal, penguatan sektor pangan untuk menjaga stabilitas harga, serta optimalisasi potensi energi alternatif berbasis lokal. Selain itu, sinergi dengan pemerintah pusat dan Bank Indonesia menjadi penting dalam menjaga stabilitas inflasi dan daya beli masyarakat.

Sehingga, krisis geopolitik global yang tampak jauh secara geografis sesungguhnya memiliki dampak nyata hingga ke daerah seperti Sulawesi Barat. Ini menegaskan bahwa dalam era globalisasi, tidak ada daerah yang benar-benar imun terhadap guncangan eksternal. Oleh karena itu, membangun ketahanan ekonomi daerah bukan lagi pilihan, tetapi sebuah keniscayaan strategis dalam menjaga daerah tetap survive dan tahan terhadap gejolak global.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x