Menakar Ulang Pendidikan: Refleksi Spirit Ki Hajar Dewantara & Paulo Freire

Avatar photo
Kamaruddin Kay
1 Mei 2026 19:25
3 menit membaca

Penulis : Zulkarnain Hasanuddin, S.E., M.M (Dosen STIE Yapman Majene)

OPINI – Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap 2 Mei kerap terjebak dalam ritus seremonial yang repetitif—upacara, slogan, dan retorika normatif, namun miskin refleksi kritis atas arah pendidikan nasional.

Momentum Hardiknas 2026 semestinya menjadi ruang evaluasi yang lebih substantif, sejauh mana praktik pendidikan kita masih sejalan dengan spirit emansipatoris yang diwariskan oleh Ki Hajar Dewantara dan Paulo Freire?

Secara filosofis, baik Ki Hajar Dewantara maupun Paulo Freire bertolak dari asumsi yang sama, bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Ki Hajar Dewantara melalui konsep “ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” menempatkan pendidikan sebagai proses pembimbingan yang membebaskan potensi manusia secara utuh, bukan hanya transmisi pengetahuan.

Sementara itu, Paulo Freire dalam kritiknya terhadap banking education menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh memposisikan peserta didik sebagai “wadah kosong” yang pasif, akan tetapi subjek aktif yang memiliki kesadaran kritis (conscientization) untuk membaca dan mengubah realitas sosialnya.

Namun, jika ditarik ke dalam konteks kekinian, wajah pendidikan kita justru masih memperlihatkan gejala yang paradoksal. Di satu sisi, negara terus melahirkan berbagai program dan kebijakan inovatif, di sisi lain, praktik di lapangan masih didominasi oleh logika instrumentalis, pendidikan direduksi menjadi alat untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja semata.

Kurikulum kerap berubah, tetapi orientasi pedagogisnya belum sepenuhnya beranjak dari pola lama. Hafalan, standarisasi, dan pengukuran kuantitatif yang kering dari dimensi reflektif.

Dalam perspektif Freirean, kondisi ini mencerminkan masih kuatnya paradigma “pendidikan gaya bank”, di mana peserta didik diposisikan sebagai objek, bukan subjek. Sementara dalam konsep Ki Hajar Dewantara, situasi ini menunjukkan tereduksinya peran pendidikan sebagai ruang pembentukan karakter dan kebudayaan. Pendidikan kehilangan ruhnya sebagai proses pembebasan, dan beralih menjadi mekanisme reproduksi sistem sosial yang ada.

Hardiknas 2026 seharusnya menjadi momentum untuk mengajukan pertanyaan subtansial, apakah sistem pendidikan kita telah melahirkan manusia merdeka, yang berpikir kritis, beretika, dan memiliki kesadaran sosial? Ataukah justru menghasilkan individu yang terampil secara teknis, tetapi miskin refleksi dan keberanian moral?

Tantangan pendidikan kita hari ini tidak hanya bersifat struktural, tapi juga kultural. Di tengah arus digitalisasi dan banjir informasi, kemampuan berpikir kritis menjadi semakin krusial. Namun ironisnya, ruang-ruang pendidikan kita belum sepenuhnya mendorong dialektika gagasan. Diskursus seringkali digantikan oleh monolog, pertanyaan kritis kerap dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai energi intelektual.

Tentu tidak berlebihan, jika kita hidupkan kembali spirit Ki Hajar Dewantara dan Paulo Freire dan tentu bukanlah romantisme historis saja, tetapi sebuah keniscayaan epistemologis. Pendidikan harus dikembalikan pada fungsi dasarnya, membangun kesadaran, membebaskan pikiran, dan membentuk manusia yang mampu berdialog dengan realitasnya.

Oleh karena itu, refleksi Hardiknas tidak hanya berhenti pada evaluasi kebijakan, tetapi harus menyentuh transformasi paradigma. Guru tidak lagi hanya menjadi penyampai materi, dan juga tidak hanya memberikan penjelasan saat mengajar, tetapi lebih dalam lagi, mengetuk pintu-pintu pikiran peserta didik. Di saat yang bersamaan menjadi fasilitator pembebasan. Sekolah tidak lagi menjadi ruang reproduksi pengetahuan, tetapi laboratorium pemikiran kritis. Dan pendidikan tidak lagi dipahami sebagai proses linear menuju pekerjaan, tapi sebagai perjalanan eksistensial menuju kemanusiaan yang utuh.

Hardiknas 2026, mari kita tanamkan satu hal penting, bahwa, jika pendidikan kehilangan daya kritisnya, sama saja dengan pendidikan yang kehilangan maknanya. Maka, tugas kita hari ini tidak hanya merayakan, tetapi juga memastikan bahwa setiap praktik pendidikan benar-benar menjadi jalan pembebasan, sebagaimana spirit Ki Hajar Dewantara dan Paulo Freire.

Selamat hari pendidikan nasional tahun 2026 ‘Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu Untuk Semua’

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x