Partai Golkar: “Shalihun Likulli Zaman Wa Makan”

Avatar photo
Kamaruddin Kay
15 Feb 2026 17:13
3 menit membaca

Penulis: Ahmad Zaki Al Mahdali (Wakil sekretaris bidang kerohanian, DPD I Golkar Sulbar)

OPINI- Partai Golkar telah mengukir sejarah panjang dinamika politik Indonesia, menjadi partai terbesar yang tetap kokoh hingga saat ini.

Bagi Golkar, tentu bukan hal mudah untuk melalui semua rintangan zaman dan pergolakan politik di setiap tempat, butuh soliditas kuat dalam internal partai dan menjaga trust publik terhadap kinerja organisasi.

Zaman paling penting yang harus tetap berada dalam memori setiap orang adalah bagaimana partai Golkar tetap kokoh setelah runtuhnya orde baru. Bagaimanapun juga Golkar yang dianggap sebagai bagian dari orde baru mendapat tekanan politik luarbiasa pasca reformasi, jejaknya sampai muncul gerakan yang mendorong pembubaran partai Golkar. Tapi justru partai Golkar menjawab dengan fakta politik pada pemilu 1999 yang berhasil meraih 22 juta suara atau skitar 23% suara.

Sejak pemilu 1999, sistem politik kita terus mencari bentuk ideal untuk dianggap paling demokratis hingga kini.

Dalam konteks kekinian, tentu perhatiannya bukan hanya pada perubahan sistem politik elektoral tapi juga pada objek politik yang telah berubah pesat. Zaman berkembang dan ruang sosial telah berubah signifikan dengan lajunya globalisasi yang didukung perkembangan teknologi dan liberalisasi pasar.

Fakta lain yang kita hadapi adalah “bonus demografi”. Indonesia pada periode 2020-2030 mencapai 54% kelompok masyarakat di usia produktif (15-40). Artinya bahwa usia angkatan kerja meningkat signifikan sedangkan lapangan kerja tidak tumbuh beriringan,sehingga ada kekhawatiran lonjakan pengangguran yang tinggi. fakta lainnya kita juga sedang berada pada zaman “disrupsi” dimana kehadiran teknologi banyak mengganti peran manusia dengan alasan efisiensi dan signifikansi kerja.

Artinya bahwa ada dua fakta yang saling bertentangan. Antara populasi angkatan kerja yang menuntut lapangan kerja dan kehadiran teknologi yang memangkas kebutuhan tenaga kerja manusia.

Selain itu populasi penduduk di usia kerja itu sedang di landa bencana teknologi yang disebut dengan teknologi adiksi atau FOMO yang melahirkan “phubbing” perilaku mengabaikan orang lain karena smartphone.

Fakta fakta ini bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja tapi ini adalah realita dari perkembangan zaman. Dan tentu ini menjadi tantangan yang harus kita jawab melalui kebijakan kebijakan politik yang relevan.

Sebagai partai politik yang “Sholihin li kulli zaman wa makan’ partai Golkar harus memiliki kemampuan adaptif dan melek terhadap perkembangan zaman.

Utamanya adalah soal kepimimpinan dan penyusunan agenda program populis dan relevan dengan konteks kekinian.

Kepemimpinan adalah tonggak utama olehnya karakter dan kharisma serta kecakapan membaca situasi kekinian adalah keniscayaan yang harus dimiliki. Dan untuk kepentingan konteks yang dihadapi partai Golkar butuh keterlibatan dan peran kelompok rentan menjadi bagian dalam proses dan agenda politik kedepan.

Kelompok rentan yang dimaksudkan adalah anak anak muda yang menjadi kelompok di populasi tertinggi saat ini. Kedepan partai Golkar harus semakin inklusif untuk anak anak muda memberi ruang untuk berakselerasi dalam panggung politik.

Dalam konteks kabupaten Polewali Mandar yang akan menyelenggarakan Musda pada hari Senin 16 Februari 2026, menjadi momentum yang baik untuk terus berbenah dan terus memperbaiki kekuatan internal partai, mengingat partai Golkar sebagai pemenang di pemilu 2024 lalu bukan hanya untuk tetap kokoh tapi harus melaju di zaman yang semakin maju. ” Indonesia Solid Golkar Jaya” (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x