Pengerjaan Proyek Revitalisasi SMPN 4 Polewali Abaikan Gambar, Ketua Panitia Proyek: Konsultan Salah, Saya Ikuti RAB

Avatar photo
Kamaruddin Kay
22 Mei 2026 09:49
2 menit membaca

POLMAN, AKARNEWS.ID – Proyek revitalisasi Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 4 Polewali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) senilai Rp 2,2 miliar menuai sorotan tajam. Pasalnya, pelaksanaan pembangunan fasilitas pendidikan tersebut dikerjakan tanpa mempedomani gambar dari konsultan perencana.

​Ketidaksesuaian spesifikasi ini diakui secara terang-terangan oleh Ketua Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) SMPN 4 Polewali, H. Ishak. Ditemui di lokasi proyek pada Kamis (21/05/2026), Ishak membenarkan adanya perbedaan acuan antara gambar teknis bangunan dengan Rencana Anggaran Biaya (RAB), khususnya menyangkut penggunaan rangka atap dan jenis besi konstruksi.

​“Pada gambar memang tertera menggunakan besi ulir, tapi RAB menggunakan besi polos atau ulir. Jadi saya ikuti RAB yang mengatakan bisa gunakan besi polos,” jelas Ishak.

​Ia berdalih, dalam setiap proyek selalu ada adendum atau perubahan volume pekerjaan, dan menganggap konsultan perencana bisa saja keliru dalam menggambar. “Besi yang tersigma 9,5 atau 9,7 itu sudah masuk kategori besi 10. Meskipun pada gambar tertulis besi ulir, saya tetap gunakan besi polos semua sesuai RAB,” tambahnya.

​Fakta mengejutkan lainnya terungkap terkait penunjukan H. Ishak sebagai Ketua P2SP. Meski bukan anggota komite sekolah, ia ditunjuk langsung oleh Kepala Sekolah SMPN 4 Polewali. Ia secara blak-blakan menyebut bahwa penunjukan dirinya tidak lepas dari kedekatan personal.

​“Saya ini P2SP, di-SK-kan oleh Kepsek. Saya sudah ikut Bimtek di Jakarta, kebetulan Kepala Sekolah itu temanku main domino,” ungkap Ishak yang juga mengaku memiliki latar belakang pengalaman sebagai kontraktor konstruksi.

​Dalam praktiknya di lapangan, Ishak mengambil alih peran krusial mulai dari pengadaan material hingga pembayaran tenaga kerja. “Buruh bangunan saya yang panggil, material bangunan saya yang pesan dan bayar, bahkan saya sudah pesan tegel sebanyak satu kontainer dari Surabaya,” tuturnya.

​Ironisnya, untuk proyek berskala miliaran rupiah ini, standar pengerjaan di lapangan terkesan minim fasilitas. Pengadukan material semen dan pasir masih dilakukan para buruh secara manual menggunakan sekop. Menurut Ishak, mesin pengaduk semen (molen) baru akan didatangkan khusus untuk pekerjaan pengecoran lantai.

​Selain itu, fasilitas direksi keet atau kantor lapangan proyek untuk sementara waktu memanfaatkan bangunan kantin sekolah. Untuk menunjang jalannya proyek, Ishak mengaku sejauh ini telah melakukan penarikan dana sebanyak enam kali melalui Kepala Sekolah.

​Sebagai informasi, program revitalisasi SMPN 4 Polewali ini merupakan program Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal PAUD Dikdasmen, Kementerian Dikdasmen. Di wilayah Polman, program peningkatan infrastruktur pendidikan ini masuk melalui jalur aspirasi atau Pokok Pikiran (Pokir) anggota DPR RI Dapil Sulawesi Barat, Ratih Megasari Singkarru. Kini, kualitas dan transparansi pengerjaan proyek tersebut menjadi tanda tanya besar di tengah masyarakat. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x