
POLMAN, AKARNEWS.ID – Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terletak di samping Hotel Al Ikhlash, Kelurahan Pekkabata, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) menuai sorotan. Salah seorang warga setempat mengeluhkan bau busuk menyengat yang diduga kuat berasal dari pembuangan limbah dapur tersebut.
Syahrir Hamdani, warga Pekkabata yang rumahnya terdampak langsung, mengaku harus berhadapan dengan aroma tak sedap dari air limbah yang mengalir di saluran air depan rumahnya.
Lantaran keluhannya tak kunjung membuahkan hasil meski telah empat kali mendatangi pihak pengelola dapur, Syahrir akhirnya melaporkan masalah ini ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Polman dua hari lalu.
”Saya selalu minta agar ada perhatian dan diatasi agar tidak berbau busuk. Karena tidak ada perbaikan, maka saya mengadukan hal ini ke Kantor Lingkungan Hidup Polman,” tegas Syahrir kepada wartawan.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Syahrir usai berkunjung ke DLHK, ia menyebut bahwa petugas telah turun ke lapangan dan membenarkan sumber bau busuk berasal dari titik Satuan Pelayanan Peningkatan Gizi (SPPG) tersebut. Syahrir juga menyoroti dugaan bahwa dari sekian banyak titik SPPG yang dikelola Yayasan Masa Depan Bangsa banyak yang belum memenuhi standar Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
”Kondisi seperti ini menjadi tanda tanya, mengapa diizinkan tetap beroperasi? Mengapa tidak dilakukan penutupan sementara, sebagaimana beberapa titik SPPG lainnya yang ditutup karena belum memiliki IPAL,” keluhnya.
Bantahan Pihak Pengelola Dapur
Menanggapi tudingan tersebut, Pengelola Dapur Pekkabata, Ririn Agita Ariyani (Hj. Ririn), membantah keras bahwa limbah dapur MBG miliknya menjadi biang kerok bau busuk di lingkungan tersebut. Ia menegaskan bahwa sejak awal beroperasi, pihaknya telah melengkapi standar IPAL sesuai dengan arahan dan persyaratan dari DLHK.
Menurut Ririn, keluhan tersebut hanya datang dari satu pihak dan tidak mewakili keresahan warga secara umum.
”Hanya satu orang warga saja yang mengeluh, warga lainnya tidak ada yang mengeluh. Bisa jadi yang bau itu bukan bau limbah dapur, tapi bau got di sekitar pemukiman,” sanggah Ririn, saat dikonfirmasi, Senin, (25/5/2026).
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa air hasil pengolahan limbah dari dapurnya sudah dicek dan dipastikan tidak menimbulkan bau. Ririn juga menambahkan bahwa hingga saat ini, DLHK belum mengeluarkan hasil uji laboratorium resmi terkait pemeriksaan limbah di lokasinya.
”Terkait IPAL, kami ikuti standar arahan DLHK. Air yang keluar dari pengolahan limbah sudah dicek dan itu tidak menimbulkan bau. Soal kewenangan IPAL itu DLHK kami terus berkoordinasi dengannya namun hingga hari ini tak ada hasil dari itu apakah ini sesuai atau tidak” pungkasnya.
Untuk diketahui, SPPG tersebut dikelola oleh Yayasan Masa Depan Bangsa. SPPG ini menyalurkan Makan Bergisi Gratis ke 1999 penerima manfaat yang mayoritas adalah anak sekolah. (*)


Tidak ada komentar