PASANGKAYU, akarnews.id — Program makan gratis di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat kembali menuai kecaman keras setelah rangkaian temuan benda asing mencemari jatah makanan siswa sekolah.
Alih-alih mendatangkan gizi, menu yang dibagikan justru kedapatan mengandung hewan kaki seribu hingga jarum pentul dalam dua hari berturut-turut.
Peristiwa ini bermula ketika seorang guru di salah satu sekolah wilayah Kecamatan Lariang mendapati seekor kaki seribu yang sudah mati bercampur di dalam sayur pada nampan makan, Kamis (10/9/2026).
Temuan itu langsung diabadikan dan beredar luas setelah diunggah ke media sosial Facebook oleh akun Wildawnty.
Ironisnya, kejadian ini melengkapi insiden serupa sehari sebelumnya, di mana sebuah jarum pentul juga kedapatan menyusup di dalam wadah makan pelajar SMAN 1 Lariang.

Jarum pentul ditemukan dalam menu MBG di Kecamatan Lariang, Kabupaten Pasangkayu, Sulbar.
Rentetan kelalaian ini sontak memicu keresahan mendalam di tengah orang tua murid dan warga lokal yang khawatir akan keselamatan anak-anak mereka.
Geram dengan situasi tersebut, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Pasangkayu melayangkan protes keras terhadap pengelola dapur umum dan instansi pengawas.
“Kami mengapresiasi setinggi-tingginya kepada pihak sekolah dan guru yang telah jeli dan berani melaporkan temuan ini. Merekalah garda terdepan yang melindungi anak-anak kita,” tegas Wakil Ketua PC PMII Kabupaten Pasangkayu, Rahmat.
Menurutnya, insiden ini membuktikan adanya kelalaian fatal dalam rantai pengolahan makanan yang dibiayai oleh negara. Jika tidak segera ditindak, ancaman kesehatan bagi anak-anak sekolah akan terus mengintai.
“Beruntung ditemukan sebelum disajikan. Bagaimana kalau ini langsung dimakan anak? Ini bukti nyata adanya kelalaian serius dalam rantai penyediaan makanan,” lanjut Rahmat.
Pihak mahasiswa menilai insiden ini mencerminkan lemahnya fungsi pengawasan dari pihak berwenang terhadap standar kebersihan dapur penyedia. Warga kini mendesak pemerintah daerah bersama instansi terkait untuk turun tangan melakukan audit menyeluruh serta menjatuhkan sanksi tegas bagi dapur umum yang terbukti abai menjaga kebersihan.
“Anak-anak adalah kelompok rentan. Hari ini kaki seribu, besok bisa bakteri E.coli, cacing, atau racun. Kami tidak mau menunggu ada korban keracunan massal dulu baru bergerak,” pungkas Rahmat. (*)
Tidak ada komentar