
Oleh: Santa, S.IP
Opini – Membincang Pemuda. Mengawali tulisan ini, saya sengaja mengingatkan pembaca pada apa yang pernah disampaikan oleh Bapak Proklamator Bangsa Indonesia, Ir. Soekarno
“Beri Aku 1.000 Orang Tua, Niscaya Akan Kucabut Semeru Dari Akarnya. Beri Aku 10 Pemuda, Niscaya Akan Kuguncangkan Dunia”
Kalimat tersebut mengandung makna, betapa pentingnya peran kaum muda dalam menentukan suatu perjalanan kehidupan bangsa.
Monumen Sejarah Sumpah Pemuda
Dalam lintasan sejarah, Gagasan tentang lahirnya sebuah bangsa yang merdeka, tidak pernah luput dari peran kaum muda. Kita mulai dari lahirnya Organisasi Boedi Utomo pada 20 Mei 1908 , dimana kita ketahui Organisasi ini digagas dan didirikan oleh kaum muda terpelajar yang berprofesi sebagai mahasiswa kedokteran . Sebut saja beberapa tokoh-tokohnya antara lain, :
1. Soetomo (Ketua organisasi)
2. Goenawan Mangoenkoesoemo
3. Mohammad Saleh
4. Mohammad Soelaiman
5. Gondo Soewarno (Sekretaris sementara)
6. Raden Angka Prodjosoedirdjo (Bendahara)
7. Soeradji Tirtonegoro (Pengusul nama “Boedi Oetomo”), serta Dr. Wahidin Sudirohusodo sebagai penggagasnya.
Lalu kemudian, etape selanjutnya Kita Kenal Peristiwa Kongres Pemuda 1 yang digagas dan dilibati, serta diperani oleh kaum muda.Kongres Pemuda I dilaksanakan pada tanggal 30 April – 2 Mei 1926 di Jakarta (Batavia), berlokasi di Gedung Vrijmetselaarsloge (Kawasan Lapangan Banteng).
Kongres ini menjadi langkah awal yang penting untuk menyatukan berbagai organisasi pemuda dari berbagai daerah di Indonesia.Dengan Susunan Kepanitiaan sebagai berikut:
Ketua: Mohammad Tabrani (dari Jong Java / wartawan Koran Hindia Baroe)
Wakil Ketua: Soemarmo
Sekretaris: Djamaluddin Adinegoro
Bendahara: Soewarso
Anggota Panitia: Bahder Djohan, Jan Toule Soulehuwij, Paul Pinontoan, Achmad Hamami, Sanusi Pane, dan Sarbani.
Adapun Peserta Organisasi yang hadir mengikuti Kongres Anatar lain:
Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Sekar Rukun, Jong Islamieten Bond (JIB), Studerenden Minahassers dan Jong Bataks Bond serta Pemuda Kaoem Betawi / Pemuda Kaum Theosofie.
Adapun Tujuan atau maksud dari kegiatan kongres kesatu ialah :
1. Memajukan paham persatuan kebangsaan.
2. Mempererat hubungan di antara berbagai perkumpulan pemuda nasional.
3. Meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan badan sentral atau perkumpulan pemuda tunggal di Indonesia.
Mengenal Peristiwa Kongres Pemuda II 1928
Sebagai Cikal Bakal Lahirnya Sumpah Pemuda dari beberapa etape monumen sejarah kebangsaan yang dimotori ,digaungi dan digerakkan oleh kaum muda dimasa itu, pada Kulminasinya lahirnya Kongres Pemuda II yang berlangsung pada tanggal 27- 28 Oktober 1928.
Kongres Pemuda Kedua berlangsung pada 27–28 Oktober 1928 itu dilaksanakan di Batavia (Jakarta) dan melahirkan ikrar Sumpah Pemuda.
Kongres ini digagas oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) untuk menyatukan semangat perjuangan bangsa di tengah kolonialisme Belanda. Adapun Susunan Kepanitiaan Kongres Pemuda Dua sebagai berikut:
Ketua: Sugondo Djojopuspito (PPPI)
Wakil Ketua: R.M. Joko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris: Muhammad Yamin (Jong Sumatranen Bond)
Bendahara: Amir Sjarifudin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I–V: Johan M. Cai, R. Katjasoengkana, R.C.I. Sendoek, Johannes Leimena, dan Mohammad R. Su’ud.
Pelaksanaan di Tiga Gedung Bersejarah.
Kongres ini dibagi menjadi tiga kali rapat di lokasi berbeda di Jakarta:
Rapat Pertama (Sabtu malam, 27 Oktober 1928 di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond / KJB, Lapangan Banteng)
Dibuka dengan sambutan Ketua Sugondo Djojopuspito.
Muhammad Yamin menyampaikan uraian tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda, termasuk 5 faktor yang bisa memperkuat persatuan (sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan).
Rapat Kedua (Minggu pagi, 28 Oktober 1928 di Gedung Oost-Java Bioscoop, Jl. Medan Merdeka Timur)
Pembicara Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro membahas masalah pendidikan.
Mereka sepakat bahwa anak-anak harus mendapat pendidikan kebangsaan dan keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah.
3. Rapat Ketiga / Penutupan (Minggu sore, 28 Oktober 1928 di Gedung Indonesische Clubgebouw, Jl. Kramat Raya No. 106 milik Sie Kong Lian/Sie Kong Liong)
Pembicara Sunario dan Ramelan menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan.
Wage Rudolf Supratman (W.R. Supratman) memperdengarkan lagu Indonesia Raya untuk pertama kalinya secara instrumental menggunakan biola (tanpa lirik terbuka demi menghindari kecurigaan polisi kolonial Belanda).
Di akhir rapat, dibacakan rumusan keputusan yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.
Naskah Sumpah Pemuda
1. Kami Putra Dan Putri Indonesia, Mengaku Bertumpah Darah Yang Satu, Tanah Air Indonesia.
2. Kami Putra Dan Putri Indonesia, Mengaku Berbangsa Yang Satu, Bangsa Indonesia.
3. Kami Putra dan Putri Indonesia, Menjunjung Bahasa Persatuan, Bahasa Indonesia.
Adapun yang menjadi tempat pelaksanaan penutupan Kongres atau Rapat ,berlangsung di Jalan Kramat Raya 106 kini diabadikan sebagai Museum Sumpah Pemuda.
Konklusi Dari Sumpah Pemuda
Dari rentetan Perjalanan Sejarah Kaum Muda, Kita dapat merefleksi beberapa hal tentang Keterlibatan Kaum Muda dalam lintasan Sejarah Perjalanan Kemerdekaan Republik Indonesia .
Pertama: Bahwa Sejak awal masa pergerakan, keterlibatan kaum muda Indonesia Amat terlibat dalam menggagas, memikirkan, dan memperjuangkan lahirnya Sebuah Bangsa yang Indonesia yang merdeka dan berdaulat sebagai suatu bangsa.
Kedua: Keterlibatan kaum muda, dimasa pra kemerdekaan dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, mestinya dapat dijadikan sebagai sumber energi, semangat, Kekuatan, Inspirasi , serta motivasi yang dapat mengakselerasi untuk menunaikan janji kemerdekaan dewasa ini baik yang bekerja dilingkungan pemerintahan , Pelaku Usaha, NGO, Aktivis dana lain sebagainya.
Ketiga: Menjadikan semangat Hari Sumpah Pemuda sebagai titik balik untuk lebih membawa manfaat bagi Masyarakat , Bangsa dan Negara yang kita cintai.
Wallahu A’lam Bissawwab.


Tidak ada komentar