Direktur YKPM, Mulyadi Prayitno (paling kiri) bersama perwakilan Kecamatan Campalagian dan Kepala Desa Lampoko serta Kepala Desa Batulaya.POLMAN, akarnews.id — Rangkaian inisiatif strategis dalam melindungi kelompok rentan di tingkat akar rumput akhirnya sampai pada penghujung jalan.
Yayasan Kajian Pemberdayaan Masyarakat (YKPM) yang didukung penuh oleh Kedutaan Besar Swiss untuk Indonesia dan Timor Leste, secara resmi menutup seluruh rangkaian Program Penguatan Sistem Pengaduan Berbasis Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak melalui forum refleksi dan diseminasi hasil.
Kegiatan penutupan ini dipusatkan di Pondok Kelapa, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), pada Kamis (29/10/2026).
Mengusung tema “Merayakan Pembelajaran, Memperkuat Komitmen, Menanjutkan Dampak Program bagi Perempuan dan Anak”, acara ini menjadi momentum penting untuk meninjau kembali perjalanan panjang intervensi yang telah dilakukan.
Program yang menyasar wilayah piloting di dua desa yakni Desa Lampoko di Kecamatan Campalagian dan Desa Batulaya di Kecamatan Tinambung ini berfokus pada penguatan sistem perlindungan melalui peningkatan kapasitas masyarakat, penguatan layanan pengaduan, kolaborasi lintas pemangku kepentingan, hingga masifnya kampanye pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak (KTPPA).
Selama masa implementasi, program kolaborasi YKPM dan Kedutaan Swiss ini telah mencatatkan berbagai capaian konkret. Mulai dari koordinasi intensif tingkat desa hingga kabupaten, pembentukan serta pendampingan Kelompok Komunitas Perlindungan Perempuan dan Anak (K2P2A), penguatan kapasitas kader, hingga edukasi publik yang melibatkan partisipasi aktif warga.
Direktur YKPM, Muliadi Prayitno menyampaikan bahwa kegiatan penutupan ini sengaja dirancang sebagai ruang refleksi bersama. Tujuannya bukan sekadar merayakan akhir program, melainkan mendokumentasikan setiap praktik baik (best practices), tantangan, serta pembelajaran berharga yang telah dilalui di lapangan.
”Dokumentasi ini menjadi bentuk akuntabilitas publik kepada seluruh mitra sekaligus fondasi utama agar inisiatif baik ini tetap berlanjut di tingkat komunitas maupun mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Pelaksanaan kegiatan penutupan di Pondok Kelapa ini turut dihadiri oleh 17 perwakilan strategis dari masing-masing desa. Kehadiran para pemangku kepentingan ini mencerminkan kuatnya kolaborasi lintas sektor yang telah terjalin selama program berlangsung.
Peserta yang hadir meliputi unsur pemerintah kecamatan, Kantor Urusan Agama (KUA), kepala desa beserta jajaran staf, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), kepala dusun, perwakilan majelis taklim, tenaga pendidik, tenaga kesehatan dari puskesmas, tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur pemuda dan anak, hingga ketua-ketua kelompok komunitas (K2P2A).
Melalui metode yang partisipatif, acara diisi dengan pemaparan laporan capaian program, sesi refleksi dan monitoring-evaluasi bersama (Monev), penyerahan penghargaan kepada para kader dan mitra layanan yang berkontribusi, serta penyerahan buku praktik baik kepada masing-masing perwakilan desa.
Dari kegiatan penutupan ini, sejumlah poin penting berhasil dirumuskan. Di antaranya adalah tersampaikannya laporan capaian yang transparan, teridentifikasinya rekomendasi strategis untuk keberlanjutan program, serta terbangunnya komitmen bersama yang kokoh antara pemerintah, komunitas, dan mitra pembangunan.
Selain itu, pendokumentasian cerita perubahan (Stories of Change) yang dihimpun selama program diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Polewali Mandar.
Dengan berakhirnya program ini di bawah naungan YKPM dan Kedutaan Swiss, estafet perlindungan perempuan dan anak kini sepenuhnya berada di tangan komunitas lokal yang telah berdaya memastikan bahwa ruang aman bagi perempuan dan anak di Lampoko dan Batulaya akan terus terjaga. (*)


Tidak ada komentar