
Hamzah Durisa, pegiat literasi dan aktivis Gusdurian.Oleh : Hamzah Durisa (Pegiat Literasi , Penggerak GUSDURian)
AKARNEWS.ID, OPINI – Kalau kita bicara tentang Makan Bergizi Gratis (MBG), mungkin ada yang langsung mengernyitkan dahi: “Wah, ini pasti mahal, dari mana uangnya?” Tetapi mari kita lihat dari sisi yang lebih sederhana.
Anak yang perutnya kosong, jangankan disuruh menghafal Pancasila, diminta menulis nama sendiri pun kadang sudah pusing. Jadi, program ini sejatinya bukan soal makanan semata, tapi soal masa depan.
Bagaimana kita bisa berharap lahir generasi cerdas kalau fondasi paling dasar, yakni gizi, tidak terpenuhi? Dalam kesempatan ini, mari kita renungkan MBG dengan tiga pertanyaan: apa dampaknya, di mana bahayanya, dan bagaimana agar program ini jadi maslahat bagi semua.
Mengenyangkan Perut, Menyuburkan Masa Depan
Setiap anak yang datang ke sekolah dengan perut kenyang, sebenarnya sudah separuh jalan menuju prestasi. Ilmu pengetahuan itu ibarat benih, dan otak anak adalah ladang. Tapi kalau ladangnya gersang karena kurang pupuk alias gizinya buruk, maka benih sehebat apa pun sulit tumbuh. Program MBG punya dampak positif yang luar biasa.
Pertama, tentu saja anak-anak akan lebih sehat dan fokus. Tidak ada lagi kisah murid yang pingsan karena belum sarapan.
Kedua, program ini bisa jadi ruang pemberdayaan masyarakat. Bayangkan ibu-ibu di kampung yang diberdayakan di dapur MBG. Selain memberi makan anak-anak, mereka juga mendapat penghasilan tambahan.
Ketiga, para petani dan nelayan bisa ikut menikmati hasil. Beras dari sawah, sayur dari kebun, ikan dari laut—semua terserap langsung ke dapur MBG. Rantai ekonomi menjadi pendek, dan rakyat kecil ikut merasakan manfaat.
Jangan Sampai Jadi Ladang Basah
Tapi kita juga harus realistis. Setiap program besar, apalagi yang menyangkut anggaran triliunan, pasti ada godaan. Orang-orang yang lebih pintar menghitung fee daripada kalori anak bisa saja masuk. Bisa jadi makanan yang keluar hanya seadanya: nasi keras, sayur hambar, lauk entah dari mana. Kalau begini, anak-anak bukan tambah sehat, malah trauma tiap jam makan.
Ada juga potensi ketergantungan. Orang tua bisa saja berpikir, “Ah, negara sudah kasih makan, saya tinggal santai saja.” Padahal, tanggung jawab utama memberi gizi tetap ada di keluarga. Negara hadir untuk melengkapi, bukan menggantikan.
Selain itu, distribusi bisa timpang. Anak di kota besar mungkin dapat susu, daging, dan buah segar, sementara anak di pelosok cuma kebagian nasi dengan sayur bening. Itu jelas bukan keadilan sosial. Jangan sampai program yang berniat baik malah menambah jurang kesenjangan.
Guyonannya begini: kalau program MBG tidak diawasi, bisa saja anak-anak dapat jatah ayam goreng, tapi yang makan ayamnya pejabatnya. Anak-anak cuma kebagian tulangnya. Nah, itu baru namanya Makan Bergizi Gratis, tapi bergizinya pindah ke orang lain.
Prioritas untuk Kemaslahatan Bersama
Supaya MBG tidak berhenti sebagai proyek mercusuar, ada beberapa prioritas yang harus ditekankan.
Pertama, fokus pada anak-anak usia sekolah dan balita. Mereka yang paling rawan stunting dan paling butuh gizi seimbang. Kalau anak di usia emas ini sehat, maka masa depan bangsa ikut terjamin.
Kedua, libatkan masyarakat sekitar. Jangan serahkan semua pada kontraktor besar. Dapur MBG bisa dikelola dengan memberdayakan pekerja di sekitarnya. Dengan begitu, ekonomi lokal hidup, dan rasa kebersamaan tumbuh. Anak-anak pun makan dengan gembira karena menunya akrab dengan lidah mereka.
Ketiga, petani dan nelayan lokal harus jadi pemasok utama. Kalau bisa, ada kerja sama langsung dengan kelompok tani atau koperasi nelayan. Jadi, hasil bumi tidak perlu mutar jauh-jauh ke kota besar, baru kembali ke desa. Hemat biaya, sekaligus memperkuat ekonomi rakyat.
Keempat, transparansi. Jangan cuma laporan di kertas, tapi libatkan orang tua dan guru untuk mengawasi. Kalau perlu, biarkan anak-anak juga bicara: apakah makanannya enak, cukup, dan bergizi? Kalau anak-anak jujur bilang “sayurnya hambar,” ya jangan marah. Itu namanya umpan balik.
Dari Ompreng ke Karakter Bangsa
Jangan lupa, MBG bukan hanya soal makan. Ada dimensi pendidikan di dalamnya. Anak-anak harus diajari mengapa gizi itu penting. Mereka harus tahu kenapa sayur hijau dan ikan lebih baik daripada minuman instan berwarna-warni. Dengan begitu, MBG tidak sekadar memberi makan, tapi juga membentuk budaya makan sehat.
Lebih jauh lagi, MBG bisa menjadi pintu masuk untuk menanamkan nilai-nilai sosial. Anak-anak belajar berbagi meja, menghargai makanan, dan tidak membuang-buang rezeki. Ini adalah pendidikan karakter yang sederhana tapi mendalam.
Bayangkan kalau setiap hari, jutaan anak Indonesia makan bersama dengan menu sehat. Ada kebersamaan, ada kegembiraan, ada rasa syukur. Itu lebih dari sekadar program pemerintah—itu adalah proyek peradaban.
Makan Bergizi Gratis adalah wujud kasih sayang negara kepada rakyatnya. Ia bukan hanya memberi makan, tapi juga memberi harapan. Namun, seperti semua kebijakan besar, ia bisa gagal kalau hanya dijalankan setengah hati, atau diselewengkan oleh segelintir orang. Karena itu, pengawasan, keterlibatan masyarakat, dan keberpihakan pada petani serta nelayan adalah kunci.
Seperti kata orang tua kita dulu, urusan perut jangan main-main. Karena perut lapar bisa membuat orang lupa akal sehatnya. Maka, negara yang hadir di meja makan anak-anak, hadir pula di masa depan bangsa.
Kalau ada yang masih ragu, saya ingin katakan dengan gaya sederhana: lebih baik negara repot memberi makan anak-anak sekarang, daripada repot menghadapi generasi yang lemah dan sakit-sakitan kelak.
Dan kalau pun nanti ada yang bertanya, “Apa benar makan gratis bisa bikin bangsa ini maju?” Saya jawab saja: kalau lapar saja tidak bisa diatasi, jangan dulu bermimpi soal kemajuan. (*)


Tidak ada komentar