

Oleh: Hamzah Durisa (Pegiat Literasi/Penggerak GUSDURian)
AKARNEWS.ID, OPINI – Kepahlawanan tidak pernah mati. Ia hanya berubah bentuk. Dari perang di medan laga, kini beralih ke perjuangan di medan kehidupan. Di tengah derasnya arus zaman, semangat kepahlawanan menuntut makna baru—lebih senyap, namun tak kalah mulia.
Sulawesi Barat, tanah yang muda, sedang menulis babak kepahlawanannya sendiri. Di balik laut biru Mandar, di sela gunung Mamasa, hingga pesisir Pasangkayu, nilai-nilai perjuangan masih hidup.
Hanya saja, wujudnya kini berbeda. Bukan lagi bambu runcing dan seruan merdeka. Tapi tekad untuk maju, belajar, dan membangun bangsa lewat ilmu dan karakter.
Makna Baru dari Sebuah Perjuangan
Dulu, pahlawan adalah mereka yang menumpahkan darah. Kini, pahlawan adalah mereka yang menumpahkan tenaga, waktu, dan pikiran demi kebaikan. Perjuangan tidak lagi di barisan depan peperangan, tetapi di ruang-ruang kelas, di layar laptop, di ladang ide dan inovasi.
Kita tidak perlu menjadi Andi Depu, untuk menjadi Pahlawan. Tidak perlu seperti I Manyambungi untuk dikenang. Kita hanya perlu menjadi diri sendiri, dengan mengadopsi semangatnya dalam bertindak. Di Sulawesi Barat, semangat ini perlahan tumbuh.
Guru di pelosok Pitu Ulunna Salu, penyuluh agama di pesisir Pitu Ba’bana Binanga, mahasiswa yang mengajar di desa terpencil, atau relawan literasi yang menenteng buku ke kampung nelayan—semuanya sedang menulis kisah kepahlawanan baru. Mereka tak viral. Tak berseragam gagah. Tapi dari tangan merekalah masa depan dipahat.
Zaman ini cepat. Dunia berlari dengan teknologi. Informasi mengalir seperti air bah. Anak-anak muda di Mandar hidup di dua dunia sekaligus—dunia nyata dan dunia maya. Namun, kecepatan sering membuat kita kehilangan arah.
Literasi rendah, hoaks menjamur, dan etika perlahan menipis. Inilah tantangan terbesar hari ini: bukan lagi melawan penjajah, tetapi melawan kebodohan, kemalasan berpikir, dan ketidakpedulian. Pahlawan masa kini bukan yang paling kuat, tapi yang paling peduli. Yang paling cepat mengulurkan tangan, ketika saudaranya terperosot. Bukan yang paling pintar, tapi yang paling berani menegakkan nilai.
Pahlawan dalam Dunia Digital
Di era digital, kepahlawanan bisa lahir dari sebuah klik. Dari unggahan yang mencerahkan, dari video edukatif, dari tulisan yang menginspirasi. Anak muda Mandar yang membuat konten edukasi tentang budaya, atau guru di pelosok yang mengajar daring meski sinyal tersendat, sama berartinya dengan mereka yang dulu berperang memerdekakan negeri.
Melek teknologi bukan sekadar bisa menggunakan gawai. Tapi mampu menyalurkan makna dari teknologi itu sendiri. Teknologi adalah alat. Pahlawanlah yang memberi arah. Jika digunakan dengan niat baik, teknologi bisa menjadi jembatan literasi.
Tapi jika salah arah, ia bisa menjadi jurang kehancuran moral. Maka, pahlawan hari ini harus cakap digital, tapi tetap berakar nilai. Pintar menimbang, tapi juga arif merasa.
Pembinaan generasi di Sulawesi Barat tidak cukup hanya dengan mengajarkan membaca dan berhitung.
Yang dibutuhkan adalah pendidikan yang menumbuhkan karakter. Anak-anak harus diajak mengenal jati diri, menghormati sesama, mencintai tanah air, dan berani bermimpi besar.
Nilai-nilai lokal Mandar—siri’ anna Lokko, harus menjadi dasar pendidikan karakter. Kepahlawanan tumbuh dari budaya yang menghormati martabat dan kejujuran. Ketika seorang anak-anak belajar berbagi pengetahuan dengan temannya, di situlah benih kepahlawanan disemai.
Generasi pahlawan bukan lahir dari lomba hafalan sejarah, tapi dari teladan nyata di sekitar mereka. Dari ayah yang jujur, guru yang sabar, pejabat yang bersih, dan masyarakat yang gotong royong. Anak-anak meniru lebih cepat daripada mendengar. Maka kepahlawanan harus dihidupkan, bukan sekadar diceritakan.
Literasi sebagai Senjata Baru
Bangsa yang literat adalah bangsa yang kuat. Di Sulawesi Barat, gerakan literasi mulai tumbuh sejak beberapa tahun terakhir. Dari Polewali hingga Pasangkayu, bertebaran komunitas-komunitas penggerak literasi. Setidaknya ini ibarat pelita yang menerangi walau belum terang tetapi cukup mengahapus ‘gelapnya’ pengetahuan.
Pahlawan literasi adalah mereka yang menghidupkan semangat belajar di tengah keterbatasan. Mereka yang percaya bahwa pena lebih tajam dari pedang. Dan di dunia digital kini, membaca adalah bentuk keberanian baru—keberanian untuk berpikir di tengah kebisingan dunia maya.
Sulawesi Barat dan Semangat Gotong Royong
Sulawesi Barat dibangun dari semangat kolektif. Dari Polewali sampai Mamasa, masyarakatnya terbiasa bergotong royong. Spirit ini adalah wujud kepahlawanan sosial. Di tengah bencana, mereka bahu-membahu. Di tengah kesulitan ekonomi, mereka saling menolong. Kepahlawanan di sini tidak bersuara keras.
Tapi terasa dalam tindakan kecil yang tulus. Seorang nelayan yang membagi hasil tangkapan untuk tetangga miskin. Seorang petani yang berbagi benih. Seorang guru yang mengajar tanpa pamrih. Itulah wajah kepahlawanan lokal—senyap, tapi nyata.
Nilai gotong royong ini harus dijaga di tengah budaya individualistik yang mulai merasuki generasi muda. Kita tidak bisa hidup sendiri. Pahlawan sejati tahu bahwa kekuatan sejati ada dalam kebersamaan.
Bagi seluruh lapisan masyarakat, petani, nelayan, pedagang, aparatur negara, guru, dan sebagainya, kepahlawanan berarti pengabdian. Mereka bukan hanya pelaksana ataupun objek kebijakan, tapi penjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Setiap langkah kecil—mengurus administrasi dengan jujur, melayani masyarakat tanpa pungutan, mengajar dengan cinta, bekerja dengan tulus—adalah tindakan heroik di masa kini Pahlawan bukan hanya mereka yang dikenang dalam buku sejarah.
Tapi mereka yang terus bekerja meski tidak dilihat siapa-siapa. Mereka yang menyalakan lilin di tengah gelap, bukan menunggu terang datang.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Kita hidup di zaman paradoks. Informasi melimpah, tapi kebijaksanaan menipis. Teknologi canggih, tapi empati menurun. Inilah ujian kepahlawanan modern: menjaga hati tetap manusiawi di tengah dunia yang serba digital.
Sulawesi Barat punya potensi besar. Alamnya kaya, budayanya kuat, generasinya kreatif. Yang dibutuhkan adalah arah yang benar—pendidikan yang mencerdaskan, literasi yang menguatkan, dan teknologi yang memanusiakan. Dengan itu, semangat kepahlawanan akan menemukan bentuk barunya.
Setiap zaman punya panggilannya. Jika dulu bangsa ini memanggil anak mudanya untuk berperang, kini ia memanggil untuk berfikir, berinovasi, dan berkolaborasi. Pahlawan masa kini adalah mereka yang menjaga integritas di tengah godaan, menjaga nurani di tengah kebisingan, menjaga harapan di tengah kesulitan.
Kita tidak perlu menjadi besar untuk menjadi pahlawan. Cukup menjadi lilin kecil yang menerangi sekitar. Cukup menjadi guru yang sabar, anak muda yang jujur, petani yang giat, warga yang peduli.


Tidak ada komentar