Dialog Haul Gus Dur di Ponpes Nuhiyah Pambusuang: Membedah Humor Etis dan Jejak Kemanusiaan

Avatar photo
Kamaruddin Kay
27 Des 2025 09:23
2 menit membaca

AKARNEWS.ID, POLMAN – Lapangan Pondok Pesantren Nuhiyah Pambusuang dipadati ratusan warga dari berbagai lintas generasi pada Jumat (26/12/2025). Mereka hadir untuk mengikuti doa, zikir bersama, sekaligus dialog bertajuk “Humor Gus Dur dan Masyarakat Pambusuang” dalam rangka memperingati Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

​Kegiatan yang diinisiasi oleh Gusdurian Polman bekerja sama dengan Pondok Pesantren Nuhiyah ini mencatatkan sejarah sebagai peringatan Haul Gus Dur pertama yang dilaksanakan secara terbuka di wilayah Pambusuang.

​Ketua MUI Cabang Balanipa, Munu Kamaluddin, yang hadir sebagai narasumber menekankan pentingnya memperkenalkan sosok Gus Dur kepada generasi muda di Polewali Mandar.

Menurutnya, Gus Dur bukan sekadar tokoh politik, melainkan bagian dari Biya Panrita (Keluarga Wali Allah) yang seluruh pemikirannya bermuara pada nilai kemanusiaan.

​”Apapun pemikiran Gus Dur, jika dibawa ke ranah politik maupun lainnya, pasti akan tetap kembali kepada prinsip kemanusiaan,” ujar Munu Kamaluddin di hadapan peserta yang antusias.

​Ia juga menyoroti kemiripan karakter budaya antara Gus Dur dan masyarakat setempat. Menurutnya, humor Gus Dur selalu berpijak pada etika, selaras dengan pola komunikasi masyarakat Pambusuang yang seringkali menyisipkan makna mendalam di balik setiap perkataan.

​”Orang Pambusuang itu lebih NU daripada NU, dan lebih Gus Dur daripada Gusdurian,” tegasnya, merujuk pada kesamaan nilai-nilai yang dijalani masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

​Senada dengan hal tersebut, Pembina Gusdurian Polman, As’ad Sattari, membedah kedekatan emosional antara Gus Dur dengan masyarakat Mandar. Ia mengingatkan kembali sejarah saat Gus Dur menjabat sebagai Presiden dan mengangkat Prof. Baharuddin Lopa, putra asli Pambusuang, sebagai Jaksa Agung.

​”Itu semua tidak terjadi secara kebetulan. Ada ikatan emosional yang kuat. Gus Dur itu dalam istilah Mandar disebut Menyyawa Wai atau memiliki sifat seperti air yang tenang. Sebuah karakter yang sangat sulit dicapai oleh sembarang orang,” jelas As’ad.

​As’ad juga menambahkan bahwa humor bagi Gus Dur adalah instrumen diplomasi dan solusi. Melalui sifat humorisnya, Gus Dur mampu memecah kebuntuan dan menyelesaikan berbagai persoalan bangsa tanpa ketegangan yang berarti.

​Acara yang berlangsung khidmat hingga usai ini diharapkan menjadi pemantik bagi pemuda-pemudi di Polewali Mandar untuk lebih mendalami dan menerapkan pemikiran Gus Dur dalam menghadapi tantangan zaman, terutama dalam menjaga persatuan dan nilai Mesa Pettambuang (Satu Kesatuan).

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x