Distribusi Air Terbatas Tapi Tagihan Membengkak, Warga Mapilli Polman Keluhkan Pelayanan PDAM

Avatar photo
Kamaruddin Kay
29 Okt 2026 13:09
2 menit membaca

POLMAN, akarnews.id — Lambatnya penanganan pengaduan pelanggan terkait lonjakan tagihan dan minimnya distribusi air bersih memicu sorotan terhadap kinerja Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Polewali Mandar (Polman).

Seorang warga Kecamatan Mapilli, Yusran, mengaku belum mendapatkan kepastian maupun kunjungan petugas meskipun telah mengadukan masalah tersebut sejak pekan lalu.

​Keluhan bermula saat pelanggan mendatangi unit PDAM Kecamatan Wonomulyo pada Selasa, 21 Oktober 2026. Dalam kunjungan tersebut, petugas unit berjanji akan melakukan koordinasi untuk menindaklanjuti laporan terkait tagihan air yang dinilai tidak sebanding dengan volume air yang diterima.

Namun, hingga Kamis, 29 Oktober 2026, pemeriksaan langsung ke lokasi yang diharapkan belum juga direalisasikan.

​Lantaran tak kunjung mendapat kejelasan, pelanggan kemudian mendatangi kantor pusat PDAM Polman di Polewali pada Kamis pagi guna memastikan status pengaduannya.

Dari keterangan yang diperoleh di kantor pusat, laporan yang sebelumnya disampaikan di unit Wonomulyo ternyata belum diteruskan ke tingkat pusat.

​Persoalan utama yang dirasakan warga bukan sekadar besaran tarif, melainkan ketidaksesuaian antara pencatatan meteran dan kondisi riil di lapangan. Berdasarkan catatan PDAM, pemakaian air pada Juli tercatat mencapai 47 meter kubik.

Padahal, aliran air ke penampungan rumah warga sangat terbatas dan tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari, meski pemilik rumah telah berupaya menggunakan mesin pompa untuk menarik air.

Yusran mengungkapkan, ​salah satu pegawai PDAM Polman bernama Nurmi, menjelaskan bahwa sambungan air milik pelanggan masuk dalam kelompok tarif A dengan harga Rp3.000 per meter kubik.

Kendati penjelasan tarif telah diberikan, pelanggan menilai substansi persoalan yakni perbedaan drastis antara volume pemakaian tercatat dan air yang benar-benar diterima belum terjawab secara tuntas.

​Warga setempat memahami kendala penurunan debit air akibat musim kemarau. Kendati demikian, transparansi dan kecepatan respons dari pihak pengelola tetap menjadi tuntutan utama demi keadilan bagi konsumen.

​“Kami memahami kondisi musim kemarau yang mungkin menyebabkan debit air berkurang. Namun, kami berharap ada pemeriksaan langsung terhadap meteran air kami. Jangan sampai tagihan terus berjalan hampir sama seperti sebelumnya, sementara air yang kami terima sangat sedikit dan tidak mengalir ke penampungan,” ungkap Yusran dalam keterangannya, Kamis, (29/10/2026).

​Atas kondisi ini, pelanggan mendesak manajemen PDAM Polman segera menerjunkan petugas ke lapangan untuk mengecek kondisi fisik water meter serta mengevaluasi jalur distribusi. Langkah tersebut dinilai krusial agar warga memperoleh kejelasan dasar perhitungan tagihan sekaligus perbaikan layanan secara menyeluruh. (*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x