Hamzah Durisa, pegiat literasi dan aktivis Gusdurian.Oleh: Hamzah Durisa (Tokoh Pemuda Desa Lampoko)
OPINI – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Lampoko tengah memasuki fase yang sangat krusial. Dimana dua pendaftar yang telah terverifikasi telah menjadi hangat dalam perbincangan warga. Keduanya menghadirkan sebuah pertarungan gagasan dan latar belakang yang menarik untuk diperhatikan.
Dua putra daerah, Muhammad Lismi dan Zulkifli Rasyak, hadir dengan pengalaman, perjalanan hidup, dan tawaran kepemimpinan yang berbeda. Keduanya sama-sama merupakan bagian dari masyarakat Lampoko dan memiliki kesempatan untuk membawa desa menuju tahap pemerintahan berikutnya.
Perubahan Vs Pembangunan Berlanjut
Kontestasi ini pada akhirnya bukan hanya tentang siapa yang lebih dikenal atau siapa yang memiliki hubungan keluarga dengan pemerintahan sebelumnya. Lebih jauh, Pilkades Lampoko dapat dilihat sebagai momentum bagi masyarakat untuk menentukan arah pemerintahan desa: apakah ingin memberikan ruang lebih besar kepada gagasan perubahan, atau melanjutkan pola pembangunan yang selama ini telah berjalan.
Muhammad Lismi hadir dengan latar belakang yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat desa. Selama belasan tahun, ia menjalani profesi sebagai mantri hewan. Pekerjaan tersebut membuatnya bersentuhan langsung dengan kehidupan para peternak, terutama mereka yang mengembangkan usaha sapi dan kambing.
Dari satu rumah ke rumah lainnya, dari kandang ke kandang, profesinya membuat ia mengenal persoalan masyarakat bukan hanya melalui cerita, tetapi melalui interaksi langsung di lapangan.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal sosial yang penting. Seorang peternak tidak hanya membutuhkan pelayanan kesehatan hewan, tetapi juga menghadapi persoalan pakan, harga ternak, pemasaran, modal, penyakit, hingga keberlanjutan usaha.
Karena itu, pengalaman panjang Muhammad Lismi di tengah peternak memberinya pemahaman mengenai persoalan ekonomi masyarakat dari tingkat paling bawah.
Kedekatannya dengan kelompok tani juga memperkuat pengalaman tersebut. Sebagai salah satu pengurus kelompok tani, ia memiliki ruang interaksi yang lebih luas dengan masyarakat yang menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian.
Dalam konteks desa, pengalaman seperti ini tentu memiliki nilai tersendiri karena pembangunan desa tidak dapat dilepaskan dari pertanian, peternakan, pemberdayaan ekonomi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Zulkifli Rasyak hadir dengan latar belakang yang berbeda. Ia merupakan putra dari kepala desa yang telah memimpin Lampoko selama tiga periode.
Posisi tersebut memberikan keuntungan berupa kedekatan dengan lingkungan pemerintahan desa dan pengalaman menyaksikan perjalanan pembangunan Lampoko dalam rentang waktu yang panjang.
Zulkifli memiliki perjalanan akademik yang cukup panjang. Bertahun-tahun waktunya lebih banyak dihabiskan dalam dunia pendidikan, mulai dari masa sebagai mahasiswa hingga kemudian menjalani profesi sebagai dosen. Latar belakang akademik tersebut tentu memberikan perspektif tersendiri dalam melihat persoalan pembangunan, tata kelola pemerintahan, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Di satu sisi, pengalaman akademik dapat menjadi modal intelektual bagi seorang calon pemimpin. Di sisi lain, statusnya sebagai putra kepala desa selama tiga periode juga membuat dirinya sangat dekat dengan pemerintahan yang sedang berjalan.
Masyarakat Memilih yang Mana?
Di sinilah menariknya membaca Pilkades Lampoko. Dua kandidat tersebut membawa dua pengalaman yang berbeda. Muhammad Lismi lebih banyak mendapatkan pengalaman dari interaksi langsung dengan petani, peternak, dan masyarakat di lapangan. Zulkifli Rasyak memiliki pengalaman akademik sekaligus kedekatan dengan pemerintahan desa melalui keluarganya.
Perbedaan tersebut kemudian melahirkan dua kecenderungan dukungan di tengah masyarakat. Sebagian besar masyarakat yang merasa Lampoko membutuhkan perubahan tentu akan melihat pentingnya menghadirkan kepemimpinan dengan pengalaman berbeda dari pemerintahan sebelumnya.
Bagi kelompok ini, perubahan dapat dimaknai sebagai pembaruan cara kerja, peningkatan pelayanan, pemberdayaan ekonomi, dan munculnya gagasan-gagasan baru dalam mengelola desa.
Sementara masyarakat yang menilai pembangunan selama tiga periode terakhir telah memberikan hasil positif dapat memiliki pandangan berbeda. Bagi mereka, kesinambungan program menjadi sesuatu yang penting.
Pembangunan yang telah berjalan dianggap tidak harus dihentikan hanya karena terjadi pergantian kepala desa. Karena itu, gagasan pembangunan berlanjut yang dibawa Zulkifli Rasyak dapat menjadi pilihan yang menarik bagi kelompok masyarakat tersebut.
Namun, Pilkades bukan sekadar pertarungan antara istilah “perubahan” dan “pembangunan berlanjut”. Masyarakat perlu melihat lebih jauh apa yang sebenarnya ditawarkan oleh masing-masing kandidat.
Perubahan harus memiliki arah dan program yang jelas. Sebaliknya, pembangunan berlanjut juga harus mampu menjawab persoalan baru yang muncul di tengah masyarakat.
Lampoko membutuhkan pemerintahan desa yang mampu memahami persoalan masyarakat sekaligus memiliki kemampuan mengelola pemerintahan secara profesional. Petani membutuhkan dukungan. Peternak membutuhkan perhatian.
Pemuda membutuhkan ruang untuk berkembang. Pelaku usaha kecil membutuhkan akses dan pemberdayaan. Dunia pendidikan membutuhkan perhatian. Infrastruktur harus terus dibangun, tetapi pembangunan manusia juga tidak kalah penting.
Karena itu, kedua kandidat sesungguhnya memiliki modal yang berbeda untuk ditawarkan kepada masyarakat. Muhammad Lismi membawa pengalaman panjang dari lapangan dan kedekatan dengan petani serta peternak. Zulkifli Rasyak membawa pengalaman akademik dan kedekatan dengan perjalanan pemerintahan desa selama tiga periode.
Pada akhirnya, masyarakat Lampoko memiliki hak untuk menentukan masa depan desanya. Pilihan tersebut idealnya didasarkan pada rekam jejak, gagasan, program, kemampuan kepemimpinan, serta sejauh mana setiap kandidat mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Pilkades Lampoko bukan hanya tentang memilih seorang kepala desa. Ia adalah kesempatan bagi masyarakat untuk menentukan seperti apa pemerintahan desa yang mereka inginkan untuk beberapa tahun ke depan. Yang tentunya harus diperoleh dengan cara-cara yang sehat, berwibawa, tanpa kecurangan dan tanpa permainan yang licik.
Apakah Lampoko membutuhkan perubahan dengan pendekatan baru, atau membutuhkan kesinambungan pembangunan dengan penyempurnaan dari apa yang telah ada? Jawabannya berada di tangan masyarakat Lampoko. Apakah akan tetap menikmati sama halnya dengan pemerintahan tiga periode sebelumnya, atau justru ingin mencari suasana yang baru dengan pemerintahan yang mengusung perubahan. Wallahualam bissawab.


Tidak ada komentar