Memuliakan Ibu, Memuliakan Masa Depan: Sebuah Catatan dari Film MARS di Hari Ibu 

Avatar photo
Kamaruddin Kay
22 Des 2025 21:57
5 menit membaca

Oleh: Hamzah Durisa (Pegiat Literasi/Penggerak GUSDURian)

AKARNEWS.ID, OPINI – Pada Hari Ibu, 22 Desember 2025, kita kembali diajak menundukkan kepala sejenak—bukan untuk sekadar mengingat tanggal, tetapi untuk mengingat sosok yang paling sering kita lupakan dalam perjalanan menuju mimpi: ibu. Cinta seorang ibu jarang hadir dalam kata-kata besar atau panggung perayaan.

Ia hidup dalam keringat yang tak pernah ditulis, doa yang dipanjatkan dalam sunyi, dan pengorbanan yang tidak pernah meminta balasan. Penulis kembali teringat pada sebuah film yang berjudul ‘MARS: Mimpi Ananda Raih Semesta’ yang menjadi salah satu cermin paling jujur untuk melihat wajah cinta itu—cinta yang sederhana, namun mampu menggerakkan semesta.

Film ini bukan sekadar kisah tentang pendidikan. Ia adalah potret mendalam tentang seorang ibu bernama Tupon, perempuan desa dari Gunungkidul, Yogyakarta, yang hidup dalam keterbatasan, tetapi memiliki kekayaan batin yang luar biasa. Diperankan dengan penghayatan yang tenang namun menghantam oleh Kinaryosih, Tupon tampil sebagai ibu yang tidak pandai berbicara tentang teori masa depan, tidak tau membaca, tetapi menghidupi masa depan itu lewat kerja keras yang tak pernah berhenti.

Dari wajahnya yang lelah oleh panas dan kemiskinan, tumbuh keyakinan yang kokoh: pendidikan adalah satu-satunya jalan agar anaknya tidak mengulang nasib yang sama.

Gunungkidul dalam film ini digambarkan apa adanya—tanah kering, jarak yang jauh, fasilitas pendidikan yang terbatas, dan realitas sosial yang sering kali tidak ramah pada mimpi anak-anak desa. Gambaran ini sesungguhnya sangat dekat dengan realitas banyak wilayah di Indonesia, termasuk kampung-kampung Mandar di Sulawesi Barat.

Di pesisir dan pegunungan Mandar, banyak anak tumbuh dengan semangat besar, tetapi peluang yang terbatas. Banyak ibu Mandar yang hidup sederhana, bekerja tanpa sorotan, namun menyimpan doa besar agar anaknya kelak melampaui hidupnya.

Tupon tahu pahitnya hidup serba kekurangan. Ia tahu rasanya menjadi orang kecil yang tidak banyak pilihan. Namun justru dari kesadaran itulah, ia menolak menyerah. Baginya, kemiskinan bukan takdir yang harus diwariskan.

Jika ia tidak bisa mengubah hidupnya sendiri, maka ia akan memperjuangkan hidup anaknya. Sikap ini sangat akrab dengan nilai orang Mandar: Passikolao Kambe’ Anna’ Menjari Tauo (Sekolahlah nak, kelak kamu akan menjadi manusia yang sesuangguhnya). seorang ibu akan mengerahkan seluruh jiwa, raga dan kemampuannya hanya karena persoalan ingin melihat masa depan anaknya lebih cerah.

Sejak Palupi kecil, Tupon menanamkan keyakinan sederhana namun sakral: belajar adalah ibadah, dan ilmu adalah cahaya. Setiap malam, setelah tubuhnya lelah oleh kerja seharian, Tupon tetap menemani Palupi belajar. Matanya berat menahan kantuk, tetapi ia bertahan. Ia tidak pernah menghitung berapa yang ia korbankan. Seperti kebanyakan ibu—termasuk ibu-ibu Mandar—memberi tanpa pernah mencatat, mencintai tanpa pernah menuntut.

Film MARS dengan lembut menunjukkan bahwa kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan ruang tempat karakter ditempa. Palupi tumbuh bukan hanya sebagai anak yang cerdas, tetapi juga rendah hati, disiplin, dan tangguh. Semua itu lahir bukan semata dari bangku sekolah, tetapi dari rumah—dari teladan seorang ibu yang tidak pernah berhenti percaya. Film ini seolah berbisik kepada kita: keluarga adalah sekolah pertama, dan ibu adalah guru yang paling setia.

Pesan ini sangat penting bagi anak-anak Mandar yang ingin sukses. Dalam budaya Mandar, ibu bukan sekadar pengasuh, tetapi penjaga nilai, penenun doa, dan penopang batin keluarga. Anak yang ingin melangkah jauh, meraih pendidikan tinggi, jabatan, atau kemuliaan hidup, harus mengedepankan ibu—mendengarkan nasihatnya, menjaga hatinya, dan tidak melukai doanya. Sebab banyak jalan runtuh bukan karena kurang cerdas, tetapi karena lupa pada ibu.

Perjalanan Palupi tidak mudah. Jarak sekolah yang jauh, biaya pendidikan yang mencekik, serta pandangan sosial yang meremehkan mimpi anak desa menjadi ujian sehari-hari. Bahkan, Tupon kerap menghadapi cibiran karena dianggap terlalu memaksakan kehendak, terlebih untuk anak perempuan.

Dalam budaya yang masih sering menempatkan pendidikan perempuan sebagai prioritas kedua, Tupon memilih melawan arus. Ia tidak berteriak, tidak memberontak, tetapi berdiri teguh dengan keyakinannya. Ia menolak logika pasrah dan memilih logika harapan.

Bukankah ini juga kisah banyak ibu di Mandar? Ibu-ibu yang mengantar anaknya ke sekolah dengan doa di bibir, meski bekal hidup pas-pasan. Ibu-ibu yang lebih dulu lapar agar anaknya kenyang. Ibu-ibu yang percaya bahwa ilmu adalah perahu, dan anaknya harus berlayar lebih jauh dari dirinya.

Kegigihan Tupon mencapai puncaknya ketika Palupi mulai menuai prestasi.

Setiap keberhasilan Palupi bukan kemenangan instan, melainkan akumulasi doa yang dipanjatkan dalam sunyi, air mata yang jatuh tanpa saksi, dan pengorbanan yang tidak pernah diumumkan. Saat Palupi akhirnya berhasil meraih kesempatan belajar hingga ke luar negeri, air mata Tupon adalah air mata lega—lega karena perjuangannya tidak sia-sia, dan karena dunia akhirnya memberi ruang pada mimpi anaknya.

Tupon terasa sangat dekat dengan jutaan ibu di Indonesia—termasuk ibu-ibu Mandar yang mungkin tidak pernah naik panggung penghargaan, tetapi menjadi fondasi paling kokoh bagi masa depan anak-anaknya. Mereka mungkin tidak paham teori pendidikan, tetapi memahami makna pendidikan dengan sepenuh jiwa.

Di Hari Ibu ini, MARS mengingatkan kita bahwa perjuangan seorang ibu sering kali berlangsung dalam diam. Ia tidak selalu terlihat, tidak selalu dipuji, tetapi dampaknya menjalar jauh. Film ini menegaskan bahwa pendidikan adalah jalan pembebasan—dan bahwa harapan adalah bentuk keberanian tertinggi orang kecil.

Bagi anak-anak Mandar di Sulawesi Barat yang ingin sukses, pesan film ini jelas dan mendalam: jangan melangkah terlalu jauh tanpa membawa doa ibu di belakangmu. Hormati ibumu, dengarkan nasihatnya, dan jadikan pengorbanannya sebagai energi untuk bertahan, bukan beban untuk dilupakan.

Pada akhirnya, MARS: Mimpi Ananda Raih Semesta adalah kisah tentang cinta ibu yang bekerja dalam diam, harapan yang bertahan dalam sunyi, dan mimpi yang tumbuh dari tanah kering. Di Hari Ibu, 22 Desember 2025 ini, film ini terasa seperti doa bersama—untuk semua ibu, termasuk ibu-ibu Mandar, yang terus percaya pada anak-anaknya, bahkan ketika dunia meragukan mereka.

Karena selama seorang ibu masih berdoa, dan seorang anak tidak melupakan ibunya, semesta akan selalu menemukan jalan bagi mimpi untuk pulang menjadi kenyataan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x